-->

Cerita Menyentuh Guru Ngaji yang Kena Dampak Corona

- Maret 24, 2020

Saya guru ngaji. Selama tujuh belas tahun terakhir, aktivitas saya sebagian besar dihabiskan dari masjid ke masjid, mengajar orang membaca Al-Qur'an.

Dalam sehari, saya bisa berada di tiga sampai empat masjid yang berbeda. Pagi di masjid A, siang di masjid B, sore di masjid C, malam di masjid D. Begitu seterusnya.

Atau kadang saya bisa seharian di satu masjid dari pagi sampai sore jika pengajiannya full sehari penuh. Atau bahkan menginap di masjid. Itu sudah menjadi bagian dari hidup saya.

Situasi berubah beberapa waktu ini. Fatwa Ulama dan keputusan para pemimpin menyatakan bahwa masjid-masjid di Jakarta dihimbau tidak melaksanakan aktivitas berkumpul. Otomatis satu pekan terakhir saya menghabiskan waktu di rumah, dan lebih intens ke masjid di dekat rumah. Akhirnya saya bisa jadi imam sholat di masjid tempat saya tinggal, padahal biasanya jadi makmum pun jarang.

Qodarulloh. Ma sya-a fa'al...

***

Lalu hari jum'at pagi Walikota Depok mengumumkan bahwa masjid-masjid dihimbau untuk ditutup sementara.
Tidak melaksanakan shalat berjama'ah.
Tidak juga sholat jum'at.
Takmir Masjid mengumumkan sembari menangis.
Dan saya pun ikut menangis.

Ini seperti mimpi buruk.
Tapi ini terlalu nyata.
Ratusan tahun Islam tegak di Indonesia.
terjadilah sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Masjid kosong. Padahal negara damai tiada perang. Dan orang-orang sehat wal 'afiyat.

Bagi saya, dan bagi satu milyar lebih kaum muslimin di seluruh dunia, bagi kita, ini adalah sebuah tamparan yang sangat pahit. Luka yang tidak berdarah tapi sangat menyakitkan.

INI FITNAH YANG SANGAT BESAR!

***

Ah, andaikan saya bisa berlari, berperang mengangkat senjata, mungkin akan saya perangi semua yang menghalangi tegaknya sholat di bumi-bumi Allah.

Tapi kali ini musuh tidak nampak. Tidak kelihatan. Dan yang bersikukuh ke masjid tidak memberikan dampak lebih baik dari yang berdiam diri di rumah.

Ini adalah perang dalam sunyi.
Perang dengan diam.
Kemenangan kita terletak pada kesabaran kita.
Kemenangan kita tergantung pada seberapa kuat kita diam dan bertahan.

Kita akan bosan.
Kita akan marah.
Kita akan lapar.
Kita akan lelah.
Tapi kita akan bertahan.
Karena yang paling kuat bersabar, dialah yang akan menang.

***

Saya dalam banyak kesempatan sering mendengar hadits rasulullah ini.
Tapi entah kenapa, baru kali ini saya BENAR-BENAR PAHAM HAKIKATNYA.
Ini adalah perangnya orang-orang yang diam dan bersabar.
Bukan perang orang-orang yang mengangkat pedang.
Seperti diamnya Nabi Ya'kub dengan sebuah ucapan yang tegas,
"Kesabaran yang indah itulah [kesabaranku]".
Baru puluhan tahun kemudianlah diam dan sabarnya beliau membawa hasil yang nyata.

Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar!

-- Abu Qawwam
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search