-->

Para Pelaku 'DirumahAja' x 'TidakDirumahAja'

- Maret 21, 2020


"Aku nelepon narasumber. Di saat yang bersamaan, mama teriak 'ABANGGGGGG... BELIKAN MAMA SAYUR DONG". Atau kemarin, Iagi nelepon orang Kementerian, 'ABANG, INI CELANA DALAM SUDAH MAMA LIPAT'."

"Adekku confers pake jilbab tapi pake celana pendek. Anak gue masuk kamar adekku sambil bilang, 'Ante celananya kok pendek?' Seketika temen-temen kantornya pada ngakak haha.."

"Kemarin gue ngerjain kerjaan yang dikasih bos sambil video call-an, emak gue masuk sambil teriak, 'Mandi sono lu udah malem!'"

Begitu komentar beberapa teman yang (terpaksa) memilih Kerja Dari Rumah (KDR) atau yang masyhur dengan sebutan Work From Home (WFH).

Kamu tentu punya pengalaman yang lebih pahit atau seasam di atas kan? Jangan hanya manggut-manggut saja, ceritakanlah.

Saya juga melakukan hal sama, ikut andil menjadi KDR-er. Gangguan pasti ada, paling diganggu anak saat kerja sambil momong. Dijambak-jambak jenggot.

Saya berpikir tentang mereka yang bukan pelaku KDR.

Maulana, tetangga saya, terpaksa harus ngantor seperti biasa. Ia masih beraktivitas seperti biasa. Berangkat sekitar pukul delapan pagi naik commuter line (KRL).

"Ramainya masih seperti biasa. Hanya agak renggang dikit."

Kalau pulang, ia memilih agak malam agar KRL lebih sepi dari jam biasanya.

Jujur, ia mengaku ingin kerja dari rumah seperti pekerja yang lain.

"Manajer saya masih bingung ngambil keputusan WFH. Kemarin saja saya harus ketemu klien di Cikarang," kata dia, tadi pagi.

Di Cikarang, ia 'terpaksa' harus Jumatan karena kondisinya yang memungkinkan. Sementara di kantornya, Jumatan sudah ditiadakan.

Maulana adalah satu contoh pekerja yang tidak bisa mengerjakan sesuatu harus dari rumah. Di luar sana tentu banyak Maulana-Maulana yang lain. Ada alasan Khusus atau entah perusahaan tidak mau rugi akibat KDR (atau yang memberikan instruksi itu Gubernur yang tidak sesuai preferensinya?).

Kita tidak hanya dibantu oleh para pelaku KDR yang memberikan andil memotong rantai ganasnya virus yang banyak menghunus itu. Tapi juga diuntungkan oleh orang-orang yang kerja di luar rumah.

Kalau boleh terima kasih, saya ingin mengucapkan terima kasih pada tukang sayur yang tetap memenuhi kebutuhan logistik pelaku KDR. Tukang ojek online yang mau mengantar pesanan. Para awak media yang memburu kabar dan tukang yang lainnya-- tanpa menafikkan para pekerja medis.

Para pelaku KDR dan non-KDR, mari saling mendukung. Hentikan nyinyir penuh sihir pada mereka yang dianggap penakut atau pada mereka yang dititeli nekat. Ingat, kita memiliki musuh bersama--dan Presiden yang (terpaksa) sama.

M. Sholich Mubarok.
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search