-->

Jangan Marah, Bagimu Surga!

- April 29, 2020



Oleh: Yons Achmad
(Praktisi Komunikasi. CEO Kanet Indonesia)

Bram, sebut saja begitu, panggilan ringkasnya, kawan saya yang bekerja sebagai bos Event Organizer (EO). Dia pernah rugi 1 Milyar gara-gara amarah yang terus dilontarkan ke anak buahnya. Suatu ketika, ada peluncuran produk sebuah perusahaan besar. Semua sudah dipersiapkan matang. Rencananya, produk baru nanti akan tayang pada layar TV lebar dengan diiringi musik yang menggelegar.

Sayangnya, dia sebelumnya marah-marah ke anak buahnya yang bekerja sebagai operator teknis.

Hasilnya, mungkin sang anak buah jadi gugup, grogi atau entah apa, pada waktu yang ditunggu-tunggu tiba, saat semua mata tertuju pada layar lebar itu menunggu tayangan produk baru, ternyata tayangan macet, tak menyala.  Hadirin bengong, sementara bos produsen produk itu kecewa berat. Tagihan 1 milyar sisa dari fee event itu tak dibayar. Bos EO lemes, tapi itulah risiko kerjaan. Sampai dikemudian hari, dia menyesali sikapnya suka marah-marah yang kadang tak berlasan atau hanya karena persoalan sepele.

Cerita lain, seorang dokter, kini usianya 65 tahun, sudah pensiun. Awal jadi dokter dulu, gajinya tak seberapa, apalagi baru lulus dokter umum. Istrinya yang punya harapan besar akan penghasilan yang baik, ternyata harus memendam rasa kecewa untuk sekian tahun lamanya. Hidupnya dirasakan terus kekurangan. “Kamu tidur di luar,” katanya sambil banting pintu.

Itu kenangan tak mengenakkan dari sang dokter atas perilaku istrinya. Tapi, komunikasi empati dimainkan. Dia dekati istri. Dipeluknya. “Insyallah hidup kita akan membaik,” hiburnya.

Akhirnya, tak puas jadi dokter saja, dia juga serius berbisnis. Kini, di usia senjanya, punya rumah sakit sendiri, punya bisnis properti di berbagai titik, juga menjadi investor di beragam bisnis lain. Lelaki yang pandai kelola amarah.

Rio, seorang anak pejabat. Di jalan tol. Mobilnya disalip pengendara lain. Tak terima, dikejarnya itu mobil. Melihat ada yang mengejar, pengendara itu pun memacu kencang mobilnya. Sayang, terkejar juga. Mobil dipepet, pintu kaca depan digedor-gedor, “Kamu keluar”.  Sang pengendara diam saja, tapi terus dimaki-maki, akhirnya, dia buka kaca, diacungkan pistol ke kepalanya “Dor..dor”. Darah mengucur, sang anak pejabat terkapar oleh tembakan yang ternyata seorang jenderal bintang tiga (kalau cerita ini karangan saya semata).

Marah, pada akhirnya bukan solusi masalah. Artinya pula, masalah tidak akan bisa terselesaikan dengan baik dengan meluahkan amarah yang begitu dahsyat sampai meluap-luap. Apakah marah tidak boleh? Ya boleh. Itu manusiawai. Hanya saja, agama mengajarkan, itu tak baik sebagai sebuah kebiasaan. Saya ingat sebuah hadis yang sangat ringkas:

“Jangan Marah, Bagimu Surga” (HR. Thabrani)

Saya renungi betul hadis ini. Benar, kita kini sedang menghadapi masalah virus Corona, Covid-19 yang entah kapan selesainya. Marah pada keadaan, marah pada pemerintah, marah pada suami karena tak lekas bisa menghasilkan uang lagi? Boleh saja. Tapi saya kira yang penting terkendali dan secukupnya saja.

Ada doktrin komunikasi populer yang saya yakini benar adanya. Ada masalah? Komunikasikan.  Kepada Allah, kepada orang atau lembaga yang tepat. Itu kuncinya, mungkin tak benar-benar masalah langsung selesai. Tapi minimal ada ketenangan batin. Kemudian, terus melangkah dengan bimbingan Allah. Bismillah.  Hasilnya akan baik pada akhirnya. []
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search