-->

Mudik Tetap Saja Pulang Kampung

- April 24, 2020

Oleh: Yons Achmad
(Praktisi Komunikasi. CEO kanet Indonesia)

Apakah penulisan  kata yang benar di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bisa diubah? Bisa. Contohnya adalah penulisan Al-Qur’an.  Dulu banyak orang menulis kata ini dengan “Al-Qur’an”, menurut Badan Bahasa yang mengurusi KBBI, ini salah. Yang benar adalah "Alquran”.  Ini berjalan sekian lama. Saya punya pengalaman tidak enak dalam kasus ini. Awalnya, saya menulis buku dan mengikuti aturan KBBI dengan menulis “Alquran” dalam keseluruhan naskah.

Tapi, tiba-tiba Badan Bahasa menerima usulan Kementerian Agama, penulisan kata “Alquran” dinilai kurang pas ditelinga santri dan juga dinilai kurang sesuai khususnya dalam hal ejaan. Lalu menerima usulan penulisan seperti ini, “Al-Qur’an”, kembali ke penggunaan umum sebelumya. Awalnya jengkel karena harus merevisi naskah, tapi kemudian sadar, apa boleh buat, perubahan telah dilakukan oleh lembaga yang punya otoritas untuk itu, Badan Bahasa. Beberapa kata (nama) serapan yang kemudian direvisi diantaranya, Baitulmakdis menjadi Baitulmaqdis, Kakbah menjadi Ka'bah, Lailatulkadar menjadi Lailatulqadar, Masjidilaksa menjadi Masjidilaqsa dan Rohulkudus menjadi Ruhulkudus.

Dari sini, saya berpikir, apakah arti  sebuah kata atau istilah dalam KBBI juga bisa diubah? Saya kira bisa juga. Misalnya, istilah “Nyinyir” dalam KBBI diartikan sebagai mengulang-ulang perintah atau permintaan; nyenyeh; cerewet. Sepertinya, kurang pas juga kalau kita hanya berpatokan dengan arti di KBBI. Kenapa? Karena dalam praktik  komunikasi pergaulan keseharian, nyinyir tidak dipahami seperti itu. Nyinyir  lebih banyak diartikan sebagai ucapan atau komentar yang tidak mengenakkan, tanpa perlu disertai dengan argumentasi.

Kini, warganet heboh dengan ucapaan Jokowi yang mengatakan mudik tidak sama dengan pulang kampung. Lantas, beragam penjelasan dilakukan secara semena-mena yang cenderung sekadar memberikan pembenaran. Misalnya, ada yang mengatakan bahwa mudik itu sebuah tradisi bersilaturahmi ke tempat kelahiran menjelang lebaran, kemudian kembali lagi ke perantauan. Sementara, pulang kampung, seseorang yang pulang ke kampung halamannya tidak kembali lagi ke perantauan karena tidak ada pekerjaan lagi dan memang anggota keluarganya tinggal di kampung.

Dengan penjelasan semena-mena itu, selama pandemi Corona Covid-19 pemerintah melarang mudik tapi membolehkan pulang kampung. Saya kira, ini bukan perdebatan “Ilmiah Kebahasaan”. Tapi, persoalan perebutan wacana dalam praktik komunikasi politik. Intinya, mencari pembenaran atas sebuah kebijakan. Sayangnya, Jokowi tetap saja semena-mena mengartikan sesuatu sesuai selera, pengertian dan definisi sendiri. Sebagai presiden, tentu agak disayangkan. Bayangkan, ketika nanti dia bilang “Tolong itu dikondisikan” dan diartikan secara semena-mena oleh aparat dengan melakukan penangkapan atau bahkan penyiksaan? Sama seperti yang terjadi semasa Orde Baru. Mengerikan.

Bagi saya, mudik sama saja dengan pulang kampung. Masalah misalnya pulang ke kampung halaman sendiri atau ke kampung halaman istri, tetap saja namanya mudik. Mau kembali lagi ke perantuan atau tidak kembali, itu masalah lain. Yang pasti mudik dalam KBBI artinya ya pulang ke kampung halaman. Dalam kasus ini, saya kira Badan Bahasa masih punya akal waras untuk  tak serampangan mengubah pengertiannya sesuai selera penguasa semata. []
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search