-->

Penggemar Anies Baswedan Berharap Pakde Tiga Periode

- April 13, 2020


Prang!
Boom!
Gedubrak!

Membaca judulnya saja sudah berbau provokasi, menggiring opini publik, Buzzer, influrncer atau apalah istilah-istilah anak muda jaman now dalam dunia politik. Wah author fakir komentar atau gila like sampai bawa kidrin dan pakde segala, itupun hak panjenengan penduduk negeri KBM. Terkadang saking kritisnya, author bisa di kuliti sampai masalah jumlah like dan komentar.

Okelah kalau begitu, sudah cukup basa-basi basiya.

Berawal dari seorang sahabat mahasiswa UT di daerah ibukota, mengenalkan tokoh karismatik Bapak Anis Baswedan. Waktu itu beliau belum di kenal masyarakat luas.

"Bro, beliau calon orang besar dalam perpolitikan kedepannya pegang omongan saya" kata sahabatku ini dengan muka serius

 Seiring berjalanya waktu benar juga kata sahabatku, memang cerdas dan santun dalam hatiku ketika beliau bapak Anis Baswedan terpilih menjadi Mendikbud di era kabinet kerja bapak Jokowi Widodo atau yang hangat di panggil pakde.

  Dunia pendidikan seperti mendapat gairah baru yang menggebu, tak sedikit kebijakan pak Mentri menjadi terobosan dan terasa efek positifnya untuk masyarakat.

"Wah...the next presiden neh" batinku berkhayal sendirian, mungkin saat itu saya mulai suka mungkin penggemar berat anis Baswedan.

Mungkin sudah takdirnya kalinya, saya yang hobi bincang bincang politik bertemu jodoh dengan keluarga yang hobi mencermati politik.

Adalah Pamer (bapa mertua) demikian panggilan akrabku dengan beliau, dan tak hanya di NKRI atau negeri KBM saja yang ramai dan semangat untuk urusan pembahasan politik. Kebetulan Bapa mertua saya relawan partai sebelah tentunya figur favorit adalah pakde.

Sudah pasti sudut pandang politik masing masing berbeda, saling mengkritik tokoh idola masing-masing dalam kebijakan kerjanya sudah biasa. Apalagi ketika pak Anis mundur dari jabatan menteri sebelum waktunya, ramailah pamer berpendapat sampai dua wanita tercinta di dapur mesem menggelengkan kepala kalau mertua vs menantu adu pendapat.

"Pasti ada hikmah di balik mundurnya pak Anies" curhat sendiri dalam hati mengobati kekecewaan yang menyesakan dada.

Pucuk di cinta ulampun tiba, benar dugaan ku ada nama beliau dalam pasangan calon gubernur dan wakil gubernur. Sesuai asa seorang pengamat politik ecek ecek seperti saya bapak Anis Baswedan terpilih, luka kekecewaan sembuh sudah. Gubernur rasa presiden, Gubernur Indonesia sudah mulai berkumandang ke penjuru negeri.

Senyum kemenangan terpasang sempurna ketika duduk ngopi sore bersama bapak mertua, tak lagi dia banyak meledek. Saat pamer membanggakan kerja hebat untuk Nusantara sayapun bisa membanggakan Anis Baswedan dengan kebijakan untuk masyarakat DKI. Terbersit sedikit harapan apakah mungkin beliau mengikuti jejak pakde untuk pilpres 2019? Ah, biarlah waktu yang menjawab ya apapun itu kalaupun benar yes banget sambil merem-merem kegirangan.

Pilpres 2019 sudah mau dimulai, hangat nama beliau di sebut sehangat di dalam hati mendoakan. Pengumuman Paslon Capres dan cawapres 2019 mengguratkan kekecewaan kedua kalinya, super big match 2019 demikian judul pertarungan politik presiden antara idolaku gubernur Indonesia dengan pakde figur kompetitor yang sangat hebat, apa daya politik memang penuh liku-liku dan penuh tema yang lebih melow dari Drakor. Akhirnya sang wagub terpanggil menjadi pasangan Paslon presiden dan wakil presiden.

Mulai perdebatan meja bundar hangat ketika sore tiba, pamer tersenyum meledek sambil memainkan pengamatan politikya.

Entah karena rasa suka yang over dosis atau kebetulan hasil pilpres 2019 sesuai prediksi pakde kembali memimpin negeri ini untuk periode keduanya. Pamer semakin besar kepala idolanya terpilih kembali.

"Beruntung saja lawannya bukan pak Anies" sindirku dalam hati kesal, masih yakin hanya beliau Anis Baswedan yang bisa mengalahkan pakde.

 "Gimana idola? 2024 mah gak seru pakde sudah tak lagi bisa mencalonkan lagi" sindir mertuaku sambil tersenyum. Benar, dalam undang undang 1945 presiden dan wakil presiden hanya bisa untuk dua periode.

"Beliau mau menyelesaikan tugasnya sampai akhir jabatannya pamer, Ojo buru-buru" akupun membela semampuku untuk sang idola.

"Takut ketemu pakde ya?" Bapak mertua semakin membakar suasana.

"Semoga pakde bisa tiga periode," kataku masih berharap super big match terwujud idola mertua vs idola menantu.

"Tapi nak ingat, politik itu lentur lebih elastis dari karet gelang, manuver politik lebih kejam dari manuver pesawat tempur" bapa mertua mulai berceramah

"Ketika kamu mempunyai pendapat idolamu jangan pernah mengkritik idola orang lain dengan penyakit hati tapi kritik lah untuk kedaulatan negeri ini"

Belum sempat perdebatan berlanjut dari dalam kamar istriku berlari panik.

"Anak kita demam mas," istriku memberitahu, tak lama bapak mertua langsung mengeluarkan motor dan dan saya di belakang sambil menggendong anakku, kami mertua dan menantu berboncengan menuju puskesmas terdekat. Bersatu menyelamatkan keutuhan keluarga tercinta. Tak ada istilah merendahkan dalam perdebatan, karena bukan ingin menjatuhkan lawan berdebat tapi mencari solusi untuk dua pendapat yang berbeda.

Inilah suasana politik dalam keluarga kami, pandangan dan pendapat berbeda tapi urusan keluarga paling utama. Berbeda cara kerja tetapi tujuan sama keutuhan NKRI tak bisa ditawar lagi.


Oleh: Bukan Bujang Biasa
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search