-->

Praktik Keberagamaan yang Egois

- April 04, 2020


Di Malaysia berdasarkan data per 15 Maret, dari 422 warga yang positif Covid-19, 190-nya berasal dari peserta ijtima' Jamaah Tabligh (JT) di Masjid Sri Petailing, Kuala Lumpur antara 28 Februari - 1 Maret 2020.

Namun, berdasarkan update data per 19 Maret meningkat menjadi 579 dan menjadi sumber tertinggi penularan virus di Malaysia.

Per 24 Maret, polisi Malaysia masih memburu sekitar 3800 anggota jamaah yang hadir dalam ijtima'.

Di tanah air, per 19 Maret dilaporkan 12 anggota  jamaah Tabligh dari Indonesia yang hadir dinyatakan positif covid-19. Angka yang akan semakin bertambah karena ada sekitar 600 WNI dalam acara keagamaan tersebut.

Pada awalnya akan diadakan acara serupa pada 22 Maret 2020 di Gowa, Sulawesi Selatan.  Rencananya  dihadiri  puluhan ribu anggota JT. Meskipun alot, pada akhirnya acara dibatalkan. Hanya saja, terlanjur sudah berkumpul 8000 anggota JT di Gowa dari pelbagai daerah dan mancanegara.

Pertemuannya sendiri batal, namun residunya berpotensi menciptakan kluster baru penyebaran virus mematikan. Menurut panitia lokal, dikutip dari Tribunnews (23/3) pasca 5 hari pembatalan, 80 persen peserta sudah dipulangkan ke kampung halaman dan tinggal 1000 orang menunggu pemulangan.

Tampaknya tidak ada protokol pemeriksaan standar, seperti rapid test ataupun karantina 14 hari atas ribuan orang yang terlanjur berkumpul.

Ketika ditanyakan apa tidak khawatir dengan penularan. Panitia dengan yakin menegaskan, "Insya Allah, kami dilindungi Allah."

Statemen terakhir ini sepenuhnya menjelaskan keseluruhan psikologi keagamaan mereka, baik dari JT maupun selainnya.

Sebagai orang beriman, mereka meyakini adanya 'privelege' bahwa penyakit tersebut tidak akan menyentuh mereka karena sedang menyerukan syiar-syiar agama dan berdiri di atas bimbingan agama.

Tidak heran, jika ada seorang ulama di Solo menyerukan hal yang bertentangan dengan seruan pemerintah dan fatwa MUI  di tempat ibadah.

Dalam pandangan mereka, meramaikan masjid, beriktikaf, berdzikir,  berdoa dan bertaubat di masjid sebagai satu-satunya jalan penyelamatan melawan virus sehingga Allah mencabutnya.

Dalam konstruksi keagamaannya, mereka meyakini sedang melakukan jalan penyelamatan di saat banyak orang diyakininya takut bersama kebenaran dan pertolongan Allah, walaupun dalam pengertiannya yang sempit nan egoistik.

Betapa tidak, perspektif kenikmatan beribadah mereka diterjemahkan secara egoistik tanpa memperhatikan keselamatan orang lain.

Dari sini pula, kita dapat melihat betapa pentingnya derajat kematangan emosional pemimpin agama.

Ke-tidakbijak-an mereka tidak hanya membahayakan diri, namun juga jamaah atau masyarakat secara luas.

Mengapa egois? Karena mereka  gagal melihat bahwa selain mengajarkan hal-hal yang bersifat partikular, seperti cara makan, berpakaian dan memakmurkan masjid, maka nilai-nilai universal, seperti  menyelamatkan (kehidupan), menghindari madhorot, menolong masyarakat di tengah kesulitan, mengikuti petunjuk (pemerintah) yang benar serta tidak membuat kesulitan dan beban bagi orang lain juga bagian sunnah agama.

Namun bagi kalangan JT, 'ketidakpatuhan' mereka menjadi problem tersendiri.

Pada dasarnya pengikut JT apolitik. Mereka ini merefleksikan tipologi kebangkitan kelompok sufi pada abad pertengahan Islam. Kelompok yang asyik dengan dunianya dan terputus dengan realitas sosial.

Mereka ini mengutip Ali Bahnasawi, adalah gerakan protes atas kehidupan hedonis dan amoral penguasa dengan melakukan isolasi diri dari kegiatan politik dan lebih fokus kepada ketekunan beribadah.

Menyenangkan pemerintah pada satu sisi, namun justru merepotkan di sisi lain.

Karena implikasi dari isolasi ini mereka cenderung ekslusif, bukan tipe kelompok yang well-informed, melek teknologi dan arus informasi.

Jika ada ribuan anggota jamaah yang masih tidak terdeteksi ini lebih karena implikasi kultural dari cara pandang (mindset) yang terlanjur terbentuk.

Pertama,  mereka tidak mengenal benar (not well-informed) derajat berbahayanya wabah ini dan  kedua, implikasi dari keyakinan keagamaan yang problematik.

 Wallahu A'lam

-- Ahmad Dzakirin
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search