-->

Tak Mau Bermazhab tapi Malah Buat Mazhab

- April 26, 2020

Oleh: Hanif Luthfi

Buka facebook isinya corona, buka instagram corona, buka berita online corona, menyalakan televisi corona, semua corona.

Maka, biar pikirannya istirahat dari corona, pada tulisan kali ini saya tak akan menyebut corona. Tak mau menyebutnya saja, saya malah sudah menyebut corona 9 kali.

Tulisan kali ini tentang mazhab empat fiqih, anti mazhab dan mazhab zahiriy.

Dulu pernah ada teman menawarkan untuk gabung suatu organisasi keislaman baru. Semangatnya adalah menyatukan organisasi keislaman yang sudah ada, jadi tak akan ada lagi ormas NU, Muhammadiyyah, Jamaah Tabligh, dll. Semua dibawah satu bendera.

Saya sih iya-iya saja. Saya cuma bilang, "Sudah banyak yang punya rencana begitu, ingin menyatukan yang sudah ada. Tapi kenyataan malah buat satu lagi baru. Tidak jadi satu, malah nambah satu."

Termasuk dalam ilmu fiqih, banyak yang tak mau taklid kepada 4 mazhab fiqih yang ada, tak ingin berpecah dalam mazhab-mazhab. Maunya hanya ittiba' berpegang kepada Al-Qur'an dan Sunnah saja.

Tapi hal itu malah buat mazhab baru. Tak hanya buat baru satu, tapi banyak. Karena tiap syeikh, tiap ustadz, tiap channel tivi kajian, tiap channel YouTube buat mazhabnya sendiri-sendiri. Semuanya berijtihad semaunya, langsung ijtihad muthlak.

Sebenarnya mazhab fiqih yang ada itu tak hanya ada empat. Al-Laits bin Saad, Sufyan ats-Tsauri, al-Auza'i, Zaid bin Ali, Hasan al-Bashri, Said bin al-Musayyib, Daud bin Ali, Ibnu Hazm adalah nama-nama ulama hebat dalam sejarah yang pernah memiliki pengikut dan menjadi imam dalam mazhabnya.

Sedangkan yang kita kenal empat mazhab sekarang ini adalah karena keempatnya merupakan mazhab yang telah terbukti sepanjang zaman tetap bertahan, diuji lintas generasi, sehingga usianya sudah menjangkau dari lebih 1000 tahun. Diteruskan dari generasi ke generasi.

Maka, Ibnu Rajab al-Hanbali (w. 795 H) menyebutkan 7 abad yang lalu bahwa mazhab empat dalam fiqih itu merupakan bentuk sayangnya Allah Ta'ala  kepada ummat ini, dimana agama dijaga oleh orang-orang yang benar-benar ahlinya. Beliau tuturkan:

وأقام الله من يضبط مذاهبهم ويحرر قواعدهم، حتى ضُبط مذهبُ كل إمام منهم وأصوله، وقواعدُه وفصوله، حتى تُرد إِلَى ذلك الأحكام ويُضبط الكلامُ في مسائل الحلال والحرام. وكان ذلك من لُطف الله بعباده المؤمنين، ومن جُملة عوائده الحسنة في حفظ هذا الدين. )مجموع رسائل ابن رجب، 2/ 624)

Artinya: ”Kemudian Allah menjadikan orang-orang yang meneliti mazhab-mazhabnya, sehingga menjadi jelas mazhab masing-masing, serta ushul-ushulnya, kaidah-kaidahnya, dan fasl-fasl nya dan dapat dipastikan dalam pengambilan hukum halal-haram Itu semua berkat anugrah allah pada hambanya, dan termasuk upaya-upaya-Nya dalam menjaga kemurnian agama ini”

*Akan Diuji Zamannya*

Sebut saja satu contoh adalah mazhab zahiriyyah atau mazhab yang berpegang pada literal teks dan menolak qiyas. Mazhab az-Zahiri ini muncul sekitar abad ketiga Hijriyah di Irak. Didirikan oleh seorang ahli hukum (fakih) bernama Daud bin Khalaf al-Isfahani. Beliau lahir di Kufah 200H/815M dan wafat di Baghdad, 270H/883M. Banyak catatan sejarah menyebut beliau asalnya berguru kepada ulama fiqih Syafi'i. Tetapi akhirnya membuat mazhabnya sendiri.

Meski terkenal pendiri pertamanya adalah Daud bin Ali (w. 270 H), tapi pemikiran zahiriyyah hari ini malah hanya bisa kita ketahui dari seorang ulama yang terkenal bernama Ibnu Hazm (w. 456 H). Dari Irak ke Andalusia yang terjeda 2 abad. Ibnu Hazm bernama lengkap Ali bin Ahmad bin Said bin Hazm al-Andalusi adz-Dzahiri. Lahir tahun 384 H dan wafat tahun 456 H.

Hal itu karena Ibnu Hazm lah yang bisa menuliskan pemikirannya dalam beberapa kitab, diantaranya al-Muhalla. Selain banyak kitab-kitab lainnya. Ibnu Hazm (w. 456 H) tak diragukan lagi adalah seorang ulama yang cerdas, cepat dan kuat hafalannya, aktif menulis dan membantah.

Beliau gigih menyerang 3 mazhab utama di Andalusia di zamannya; Hanafiyyah, Malikiyyah dan Syafi'iyyah. Adapun Imam Ahmad bin Hanbal di masanya Ibnu Hazm dan di daerahnya belum begitu terkenal menjadi satu mazhab tersendiri.

Imam ad-Dzahabi menuliskan:

صَنَّفَ فِي ذَلِكَ كتباً كَثِيْرَة، وَنَاظر عَلَيْهِ، وَبسط لِسَانَه وَقلمَه، وَلَمْ يَتَأَدَّب مَعَ الأَئِمَّة فِي الخَطَّاب، بَلْ فَجَّج العبَارَة، وَسبَّ وَجَدَّع. (سير أعلام النبلاء، 18/ 186)

Artinya: "Beliau telah menulis banyak kitab dalam masalah ini, dan telah menelitinya, membantahnya, membahas cukup panjang dengan lisan dan penanya, namun (dalam mengemukakan dan menguatkan usul atau landasan yang beliau yakini ini dan menolak sebagian usul para imam madzhab -red) beliau menggunakan uslub (tata bahasa) yang kasar (dengan menjelekan dan menghina) terhadap para imam madzhab. Tak menggunakan adab, mencaci dan mencela.

Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) sampai berkata:

ومما يعاب به بن حزم وقوعه في الأئمة الكبار بأقبح عبارة وأشنع رد. (لسان الميزان (4/ 201)

Hal yang dicela dari Ibnu Hazm adalah bantahannya terhadap para ulama imam yang agung dengan bahasa yang jelek dan kasar.

Ibnu Hazm membantah pemikiran mazhab fiqih yang ada dengan keras, mencela dan kasar bahasanya.

Maka adz-Dzahabi menyebutkan bahwa balasan perbuatan Ibnu Hazm itu setimpal dengan apa yang dia lakukan. Adz-Dzahabi menyebutkan:

فَكَانَ جزَاؤُه مِنْ جِنس فِعله، بِحَيْثُ إِنَّهُ أَعْرَضَ عَنْ تَصَانِيْفه جَمَاعَةٌ مِنَ الأَئِمَّةِ، وَهَجَرُوهَا، وَنفرُوا مِنْهَا، وَأُحرقت فِي وَقت، وَاعْتَنَى بِهَا آخرُوْنَ مِنَ العُلَمَاءِ، وَفَتَّشوهَا انتقَاداً وَاسْتفَادَة، وَأَخذاً وَمُؤَاخذَة، وَرَأَوا فِيْهَا الدُّرَّ الثّمِينَ ممزوجاً فِي الرَّصْفِ بِالخَرَزِ المَهين، فَتَارَةٌ يَطربُوْنَ، وَمرَّةً يُعجبُوْنَ، وَمِنْ تَفَرُّدِهِ يهزؤُون. (سير أعلام النبلاء، 18/ 186)

"Artinya: Akibatnya beliau mendapatkan balasan setimpal dari apa yang beliau ucapkan dalam tulisannya tersebut. Banyak ulama yang mengingkari tulisan-tulisan beliau, bahkan lebih dari itu para ulama memperingatkan manusia agar menjauhinya, maka sebagian tulisan-tulisan beliau tersebut dibakar. Namun sebagian dari para ulama yang peduli terhadap karya-karya beliau, mereka mengoreksi dan mengkritiknya, dan di sisi lain juga mengambil faidah yang sangat banyak, mereka melihat pada tulisan-tulisan tersebut pelajaran bak mutiara yang sangat mahal yang dicampuri dan ditaburi dengan manik-manik yang hina (murahan). Kadang-kadang para Ulama merasa Aneh (dengan tulisan-tulisanya -red), dan terkadang mereka takjub. Dan pendapat menyendirinya menjadi ejekan."

*Menyendirinya Jadi Gurauan/ Ejekan*

Meski Ibnu Hazm (w. 456 H) seorang yang cerdas, banyak menulis, banyak membantah sana-sini, tak jarang dengan bahasa kasar, tapi zaman akan mengujinya.

Ad-Dzahabi menyebutkan bahwa pendapat-pendapat Ibnu Hazm (w. 456 H) yang menyendiri itu menjadi ejekan di zaman-zaman setelahnya.

Di kampus syariah Rumah Fiqih Indonesia pernah diadakan Majelis al-Bahts wa at-Tahqiq; disitu kita teliti sutu masalah dengan mengambil redaksi pendapat mazhab empat dari sumber-sumber primernya. Kita menambahkan satu mazhab lain sebagai pelengkap, yaitu mazhab zahiriyyah. Biasanya mazhab ini diambil oleh teman Saya Ustadz Muhamad Amrozi. Senang sekali beliau dengan Ibnu Hazm.

Teman-teman Majelis al-Bahtsi wa at-Tahqiq yang lain juga banyak, ada Ustadz Muhammad Ajib Asy-Syaafi'iy yang ahli dalam kitab al-Majmu', ada Ustadz Aqil Muhammad Haidar, dan ustadz-ustadz lain.

Benar saja, setelah kita membaca dan menyampaikan pandangan dari mazhab empat, maka kita selalu menunggu-nunggu pendapat dari Ibnu Hazm sebagai penutup.

Menunggu pendapat aneh-aneh dari beliau. Kita benar-benar tak menyangka pendapat beliau, out of the box. Kita takjub, kaget, heran, dan hampir sedikit mau tertawa, ya minimal tersenyum. Meski tak semua pendapatnya berbeda dengan mazhab empat. Meski aneh itu relatif.

Meski aneh, pasti di suatu zaman akan ada orang yang memungut mazhab ini. Sebagaimana ungkapan:

لكل ساقط لاقط
Artinya: "Setiap perkara yang jatuh akan ada yang memungutnya."

Seperti apa pendapat beliau yang dianggap aneh itu? Ini beberapa diantaranya dalam bab puasa:

1. Bepergian itu Membatalkan Puasa

Jika mayoritas ulama menganggap bepergian itu rukhshah untuk tidak puasa, justru Ibnu Hazm menyebut bahwa bepergian itu membatalkan puasa. Seorang yang bepergian melewati 1 mil atau sekitar 1,6 km, maka puasa Ramadhannya otomatis batal. Dia wajib qadha di hari lain.

Ibnu Hazm menyebutkan:

مسألة: ومن سافر في رمضان - سفر طاعة أو [سفر] معصية، أو لا طاعة ولا معصية - ففرض عليه الفطر إذا تجاوز ميلا، أو بلغه، أو إزاءه، وقد بطل صومه حينئذ لا قبل ذلك، ويقضي بعد ذلك في أيام أخر، وله أن يصومه تطوعا، أو عن واجب لزمه، أو قضاء عن رمضان خال لزمه، وإن وافق فيه يوم نذره صامه لنذره. (ابن حزم، المحلى بالآثار، ٣٨٤/٤).

Artinya: Siapa yang berpergian di bulan Ramadhan, baik safar taat atau maksiat, baik tak maksiat atau taat, maka dia wajib membatalkan puasa ketika sudah melewati 1 mil (1,6 km), puasanya batal jika sudah melewati itu, bukan sebelumnya. Dia wajib qadha' di hari lain. Hanya saja, musafir saat Ramadhan itu boleh puasa sunnah, atau puasa wajib lain atau qadha' Ramadhan tahun lalu.

Untuk versi empat mazhab lengkap, klik: https://youtu.be/zJKp4RvYZt0

2. Hamil dan Menyusui Boleh tidak Puasa, Tidak Wajib Qadha dan Tidak Wajib Fidyah.

Seorang yang hamil dan menyusui, merasa payah dengan dua hal itu maka dia boleh tidak puasa. Nanti tak wajib qadha' dan tak wajib fidyah. Enak sekali ini. Ibnu Hazm berkata:

فإن خافت المرضع على المرضع قلة اللبن وضيعته لذلك ولم يكن له غيرها، أو لم يقبل ثدي غيرها، أو خافت الحامل على الجنين، أو عجز الشيخ عن الصوم لكبره: أفطروا ولا قضاء عليهم ولا إطعام. (ابن حزم، المحلى بالآثار، ٤١٠/٤).

"Artinya: Jika wanita yang menyusui itu khawatir terhadap sedikitnya air susu, atau tersia-sianya anak, sang anak juga tak menerima susu lain selain ibunya, atau wanita hamil yang khawatir akan janinnya, atau orang tua yang tak mampu puasa, maka mereka boleh tidak puasa. Mereka tidak wajib qadha' di hari lain dan tak wajib fidyah memberi makan."

Bagaimana dengan mazhab empat para ulama lainnya? Klik link berikut: https://youtu.be/RAcAt3RIffA

3. Bercumbu dengan Istri Saat Puasa Ramadhan itu Sunnah, Bahkan Jika Sampai Keluar Sperma

Saat sedang puasa Ramadhan, maka sunnah hukumnya bercumbu dengan istri. Bahkan jika sampai sengaja mengeluarkan sperma, asalkan tidak berhubungan badan. Ibnu Hazm menyebutkan:

وأما القبلة والمباشرة للرجل مع امرأته وأمته المباحة له فهما سنة حسنة، نستحبها للصائم، شابا كان أو كهلا أو شيخا، ولا نبالي أكان معها إنزال مقصود إليه أو لم يكن. (ابن حزم، المحلى بالآثار، ٣٣٨/٤)

"Artinya: Mencium istri atau budak perempuan dan mencumbunya itu sunnah yang baik, sunnah bagi orang yang berpuasa. Baik dia masih muda atau sudah tua, Tak peduli baik sengaja sampai keluar sperma atau tidak. "

4. Bercumbu Sengaja Mengeluarkan Sperma dan Onani Tak Membatalkan Puasa

Jika bercumbu dengan istri sampai keluar sperma, asal tidak berhubungan badan maka puasanya tetap sah. Ibnu Hazm menyebutkan:

مسألة: ولا ينقض الصوم حجامة ولا احتلام، ولا استمناء، ولا مباشرة الرجل امرأته أو أمته المباحة له فيما دون الفرج، تعمد الإمناء أم لم يمن، أمذى أم لم يمذ. (ابن حزم، المحلى بالآثار، ٣٣٥/٤)

"Artinya: Puasa tidak batal karena bekam, mimpi basah atau sengaja mengeluarkan sperma (onani). Puasa juga tidak batal karena bercumbu dengan istri atau budaknya selama tidak di kemaluannya. Baik sengaja mengeluarkan sperma atau tidak, baik keluar madzi atau tidak."

5. Sengaja Maksiat Membatalkan Puasa

Orang yang sengaja melakukan perbuatan maksiat dan ingat jika dia sedang berpuasa, maka puasanya batal. Baik berbohong, ghibah, tak shalat, dll:

مسألة: ويبطل الصوم أيضا تعمد كل معصية – أي معصية كانت، لا نحاش شيئا – إذا فعلها عامدا ذاكرا لصومه...أو كذب، أو غيبة، أو نميمة، أو تعمد ترك صلاة، أو ظلم، أو غير ذلك من كل ما حرم على المرء فعله. (ابن حزم، المحلى بالآثار، ٣٠٤/٤)

Puasa itu batal karena sengaja maksiat; segala bentuk maksiat tanpa terkecuali jika dilakukan dengan sengaja dan ingat sedang puasa... (seperti) bohong, ghibah, namimah, sengaja meninggalkan shalat, dzalim atau lainnya yang dilarang untuk dilakukan.

6. Wajib Berbuka Puasa dengan Kurma atau Air

Berbuka puasa itu wajib dengan kurma atau air. Jika tidak, maka dianggap bermaksiat jika sudah dikasih tahu dalilnya.

مسألة: ويجب على من وجد التمر أن يفطر عليه فإن لم يجد فعلى الماء وإلا فهو عاص لله تعالى إن قامت عليه الحجة. (ابن حزم، المحلى بالآثار، ٤٥٥/٤)

Wajib bagi orang yang berpuasa jika ada kurma maka wajib berbuka dengan kurma. Jika tak ada maka dengan air putih. Jika tidak, maka dia bermaksiat kepada Allah ta'ala jika sudah disampaikan dalilnya.

*Serial Fiqih Empat Mazhab*

Sebagai tambahan, ada video-video yang bisa ditonton tentang suatu masalah fiqih menurut Empat mazhab di link berikut:

1. Apakah menyentuh lawan jenis membatalkan wudhu?: https://youtu.be/JxTgXBUTuCM
2. Apakah memegang mushaf Al-Qur'an harus dalam keadaan suci? https://youtu.be/FZn0TKDhNX8
3. Mengusap kepala saat wudhu, sebagian atau semuanya? https://youtu.be/AQgAnxw5bWo
4. Apakah sperma itu najis? https://youtu.be/BnjUnWLk-fw

Insyaallah kita akan lanjutkan dengan permasalahan-permasalahan lain seputar fiqih dari empat mazhab. Jika ada pertanyaan atau usulan yang perlu dibahas dahulu, silahkan tuliskan di kolom komentar.

Setiap orang bisa diambil perkataannya dan bisa ditinggalkan, kecuali Nabi Muhammad shallaallahu alaihi wa sallam. Wallahua'lam. Semoga bermanfaat. Tetap semangat dan selalu optimis.Jangan lupa #dirumahaja dan semoga mushibah ini segera berlalu. Amin.
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search