-->

Virus tak Peduli dengan "Mudik" atau "Pulang Kampung"

- April 23, 2020


--

Ini thread saya di Twitter pagi tadi. Saya mulai dengan pandangan yang berbeda dari mayoritas komentator. Jdnya saya ditanya sama netizen, "Wow... Dpt brapa ya pak ismail fahmi ni."

Saya jawab, "5.6 triliyin."

wkwkwk..

--

Definisi

Menurut pak @jokowi, "pulang kampung" = "mudik" yang tidak balik lagi.

Sy bisa paham. Waktu saya kuliah di Belanda, tiap beberapa tahun saya "mudik" ke Indonesia buat liburan, tapi balik lagi ke Bld setelah itu. Baru tahun 2014 saya "pulang kampung" alias "for good".

--

Protokol yang berbeda

Saya sepakat dengan @BNPB_Indonesia dan pak @jokowi, motif "pergerakan orang" dari kota ke desa2 itu berbeda.

"Mudik" yg akan balik lagi, jelas harus dilarang.

"Pulang kampung" krn hilang kerjaan, harus diperbolehkan, dg protokol khusus di desa.

--

Nah, ini yg jd concern

Apakah jutaan orang yg sudah "bergerak" dari Jkt ke daerah2 sejak sebulan lalu itu dan ke depan masuk kategori "pulang kampung" yg tidak akan kembali lagi?

Bagaimana membedakan yg bener2 "pulang kampung" karena hilang kerjaan dg yg "mudik"?

--

"Pergerakan orang" = "Pergerakan virus"

Virus covid19 tidak peduli apapun istilah yang kita pakai (mudik vs pulang kampung). Intinya kalau ada "pergerakan orang" maka akan ada "pergerakan virus".

Kita musti fokus dengan protokol "pergerakan virus ini".

--

Mereka yang tinggal di kontrakan yang sempit, berdesakan, sangat berpotensi jadi medium "pergerakan virus" antar orang (saling menulari).

Jika ada dari mereka yg sudah hilang pekerjaan, sebaiknya difasilitasi "pulang kampung" dan disiapkan "protokol di desa".

--

Tujuan dari hal di atas di tempat asal:
- mengurangi kepadatan mereka di kontrakan yang sempit
- physical distancing di kontrakan (asal)

Di tempat tujuan:
- memastikan "pergerakan virus" tetap terisolasi
- pemberian BLT, bantuan desa, penanganan.

--

Leadership

Kalau memang ini yang mau diambil, maka yang dibutuhkan adalah "leadership" mulai dari pusat, daerah, hingga desa, RT, dan RT.

Protokol harus jelas, dan tegas dijalankan.

Kalau tidak, ya percuma, "pergerakan virus" akan bebas.

--

So, yang kita hadapi bukan hanya masalah "linguistik" soal "pergerakan orang".

Ini penting dijawab:
- bgmn agar area padat tdk jadi epicentrum covid19
- bgmn daerah siap menghadapi pergerakan virus
- bgmn yg kehilangan kerjaan tetap bisa survive
- bgmn keamanan tetap terjaga

--

Saya pribadi menyesalkan cara mengomunikasikan problem "pergerakan orang" ini dengan mengitroduce istilah: "mudik" vs "pulang kampung".

Ini memantik perdebatan ecek2.

Harusnya yg difokuskan adalah: bagaimana penanganan dan protokol baik di hulu (Jakarta) maupun hilir (desa).

--

CLOSING

Demikian dari saya. Mengingat jumlah karakter Twitter yang teramat pendek untuk membahas masalah yang super kompleks ini, maka saya biasakan bikin thread.

Tolong biasakan baca dari awal sampai akhir.

Terimakasih.

-- Ismail Fahmi
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search