-->

Putra Ust Mutammimul Ula yang Dipangku: Bapak 'Yatimkan' Saya Sejak 7 Tahun

- Mei 08, 2020
Bapak. Sejujurnya hingga postingan ini ditulis, kepala saya sangat pening. Persis 24 jam lalu saya & mas Ismail Ghulam mendampingi Ibu kami mengantar Bapak ke UGD. Sejak kemarin siang, beliau yang memang sejak 6 tahun terakhir kami rawat bersama-sama akibat penyakit Parkinson, tiba-tiba mengalami gejala infeksi lambung & Pneumonia.

Panik, nafas tersengal-sengal bercucur keringat dingin, & saraf menegang yang beliau derita menular pada kami semua. Tak diayal, 8 jam berikutnya kami sekeluarga dipastikan telah ditinggal oleh Bapak untuk selamanya, Allah swt mencatat ajal kematian beliau di pagi hari pertengahan bulan Ramadhan 1441H.

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Sungguh segala sesuatu adalah milik Allah dan kepada-Nya lah semua pasti kembali. Allah swt memiliki segala pemberian. Saat Ia mengambil kembali apa yang Ia miliki, tiada hak bagi siapapun untuk mencegahnya. Termasuk pada sesosok ini, Bapak. Allah swt jadikan ia tauladan kami sesuai namanya, Mutammimul Ula: Penyempurna Yang Utama atau Yang Mulia.

Saya yang di gambar ini bersandar di pangkuan beliau ini bersaksi, bahwa Bapak adalah seseorang yang sangat cinta dakwah, melebihi cintanya pada keluarganya. Beliau adalah seseorang yang sangat cinta ilmu, melebihi cintanya pada TV, Hp, Gadget apapun. Beliau adalah seseorang yang sangat cinta al-Quran, melebihi cintanya pada dirinya sendiri.

Maharnya beliau untuk Ibu kami adalah Tafsir al-Azhar Buya Hamka 30 Juz.

Sepertiga malam terakhirnya beliau adalah untuk shalat malam dan tilawah. Pagi sampai sorenya beliau adalah untuk umat & masyarakat. Teguh, idealis, rigid pada keyakinan, pantang mundur dilawan Orba, leader perekat bermacam elemen, politisi bijak penyemai damai, serta konkrit pada rencana, itulah Bapak.

Jika bukan karena Allah swt lalu kesabaran beliau ‘meyatimkan’ saya & mas Faris Jihady sejak umur 7 di Pesantren Tahfidz Yanbu’ul Quran Kudus, kami 10 bersaudara tidak akan secinta mati ini kepada al-Quran.

Jika bukan karena Allah swt lalu karena keistiqamahan beliau saat menggariskan jalan hidup kami 10 anaknya di atas al-Quran, kami tidak akan sebahagia ini bersama al-Quran.

Bapak, maafkan kami. Semoga engkau Husnul Khatimah.


Putra tercinta, Syaihul Basyir 
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search