-->

Saat UAS 'Menyogok' Dosennya Sebelum Sidang dan Alasan Dosen Tak Punya Rumah

- Mei 11, 2020



Ustaz Abdul Somad memiliki kenangan tak terlupakan dengan Guru Besar Hadits Universitas Islam Oumdurman Sudan,
Prof. Dr. Syaikh Omar al-Ma'ruf Ali yang baru saja meninggal dunia.

"Kesan pertama, tidak menggoda. Syaikh Omar nanya macam-macam. Belum apa-apa, udah seperti sidang aja. Terasa betul bodoh saya di hadapan Syaikh Omar," kata UAS pada Ahad (10/5/2020).

Apalagi ketika UAS 'menyogok' sesuatu pada sang guru. "Apalagi pas dikasih oleh-oleh dari Indonesia, dia jawab ketus, 'Kami tidak menerima hadiah sebelum sidang!'"

"Pulang ke rumah, terasa mual, karena coretannya banyak sekali. Mata Syaikh Omar sangat tajam, titik pun dia permasalahkan," kenang UAS.

Setelah semuanya berlalu, Syaikh Omar membawa UAS ke kampungnya. UAS diperkenalkan ke keluarganya. Ia dipotongkan kambing.

"Ia suapkan ke mulut saya. Ia bawa ziarah ke makam buyutnya di bukit Syaikh Thayyib, murid Syaikh Muhammad Samman al-Madani. Dia bawa saya berkeliling kota Khartoum dan Oumdurman. Menunjukkan tempat-tempat para wali Allah dan tempat bersejarah," ungkap dia.

UAS masih ingat benar apa yang diucapkan Syeikh Umar,  "Mungkin engkau bertanya dalam hati. Mengapa kita selalu jumpa di masjid. Mengapa aku tak pernah membawamu ke rumahku di Oumdurman? Aku tak punya rumah Nak. Aku menyewa rumah kecil sederhana. Lebih tiga puluh tahun aku jadi da'i Rabithah Alam Islamy yang digaji dari Makkah disamping gajiku sebagai guru besar. Semuanya kupakai untuk membangun masjid dan sekolah tahfizh," kata UAS menirukan sang guru.

"Waktu mesti memisahkan kami. Aku pun pulang ke tanah air. Syaikh Omar selalu membalas pesan-pesan yang ku kirim melalui whatsapp. Salah satu pesan nya, ' Terima kasih atas cenderamata yang engkau titipkan ananda Abdul Somad. Adapun uang yang engkau selipkan, sudah habis ku bagi-bagikan kepada faqir miskin'. Beberapa jumat tak ada berita. Pesan terakhir ucapan selamat Ramadan," tutur UAS.

Lalu Mu'ayyad putra Syaikh Omar calon dokter itu berkirim pesan, "Tolong doakan Syaikh Omar, sedang sakit".

"Ku kirim potoku dan Hadziq. Kata Mu'ayyad, 'Syaikh Omar tersenyum melihat poto kalian'," kata UAS.

Dua hari lalu Mu'ayyad kirim pesan, kondisi Syaikh kritis. UAS kirimkan bacaan doa. Meminta Mu'ayyad mendengarkan suara UAS ke telinga Syaikh Omar. "Doa yang pernah ia ajarkan. Paling tidak ia tau, bahwa aku mengamalkan ilmunya," ujar dia.

Akhirnya, tengah malam tadi, Mu'ayyad berkirim voice singkat, " Syaikh Omar sudah mendahului Kita".

Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search