-->

Dulu Jualan Martabak, Kini Jualan Nama Orangtua

- Juli 21, 2020
"Halo saya Gibran," ucapnya ramah sambil duduk di sebelah saya.

"Mbak dari Jakarta?"

Saya memberikan kartu nama.

Gibran membaca sebentar lalu berkata, "Saya ini mirip lho dengan Bapak. Tapi lebih kecil. Soalnya waktu saya lahir dulu, cowok kecil lagi ngetren."

Saya pun tertawa terbahak-bahak. Gibran begitu ramah. Dia memperkenalkan diri sebagai pengusaha.

Ketika saya tanya pendapatnya mengenai Jokowi sebagai walikota, Gibran cemberut.

"Saya sebenarnya tidak setuju Bapak jadi wali kota atau jadi pejabat apapun. Pengusaha tugasnya itu mengembangkan bisnis bukan main politik. Dulu bapak ke mana-mana mengurusi bisnis. Sekarang ke mana-mana mengurusi politik."

--

Potongan dialog di atas terdapat pada buku karya Andina Dwi Fatma dengan judul #KamiJokowi yang diterbitikan 3 tahun silam (Gramedia, 2017).

Gibran kala itu masih menjadi anak Joko Widodo yang seorang wali kota Solo Jawa Tengah. 

Kini, Jokowi seorang presiden dan Gibran sedang mencalonkan diri sebagai wali kota Solo, melanjutkan apa yang dilakukan oleh Jokowi.  Dalam kontestasi tersebut, Gibran dipasangkan dengan Teguh Prakosa, yang tak lain adalah Sekretaris Fraksi PDI Perjuangan di DPRD Surakarta.

Dalam sejumlah kesempatan, tepatnya 27 Agustus 2017, Gibran kerap menyatakan bahwa dirinya lebih memilih untuk mengembangkan bisnisnya dibandingkan terjun ke dunia politik. "Enggak sih. Saat ini enggak, lah. Saya begini sajalah, jualan martabak," kata Gibran.

Setahun kemudian. Anak sulung Jokowi itu menyatakan, lebih tertarik berbisnis ketimbang harus mengikuti langkahnya ayahnya terjun ke dunia politik.

"Ayah saya juga dulu bisnis, jadi mengikuti ayah (juga)," ujarnya dalam di Gerai Markobar, Cikini, Jakarta Pusat, 11 Maret 2018 lalu.

Gibran berdalih bahwa apa yang dilakukannya sekarang adalah sedekah.

"Karena pengusaha yang sukses itu harus ada yang namanya pengembalian ke masyarakat. Jadi harus ada yang namanya pengabdian ke negara dan itu menurut saya sodaqoh. Menurut saya, pengusaha bisa jadi politikus tapi politikus belum tentu bisa jadi pengusaha," ucapnya.

Ah, dulu jualan martabak kini jualan nama besar bapaknya.
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search