-->

Peti Jenazah KH Hilmi Aminuddin Ringan Sekali

- Juli 05, 2020



"Siapa yang siap menangkat jenazah dari ambulans sampai ke makam?"

Tiba-tiba komandan dari Dinkes itu terdengar saat kami siap-siap dengan merapikan APD yang kami kenakan.

Tanpa jeda dari suara itu saya dan 5 teman lainnya tunjuk tangan.

Lalu beliau memberi arahan tentang teknis dari mobil sampai masuk liang lahat dengan standar pemakaman di masa pandemi.

Saat itu liang lahat masih belum semuanya siap.

Saat tiba waktunya untuk  membawa jenazah itu dimakamkan, kami ber enam siap di posisi masing-masing.

Pintu belakang ambulans dibuka.

Allah yaa Rabb...

Peti jenazah guru, orang tua, penasihat, inspirator itu persis di depan mata saya.

Bulir-bulir air mata ini tak mampu kutahan lagi.

Terbayang jelas senyum ramah itu, terkenang jelas nasihat-nasihat itu.

Jantungku berdegup lebih keras. Lutut terasa gemetar dan terasa lemas.

"Tarik pelan-pelan........"

Komando itu mengawali. Perlahan dan hati-hati kami keluarkan dari ambulans.

Kemudian kami pikul menuju pemakaman.

Subhanallah, peti jenazah sang guru itu begitu ringan seolah hanya sebuah peti kosong.

Laa ilaaha illallah......

Kami terus lantunkan sampai ke liang lahat.

Sehari setelah pemakaman rupanya di antara kami yang memikul jenazah itu saling berkabar dan menceritakan bahwa kita merasakan hal yang sama.

Semoga Allah meringankan hisab guru, pemimpin, penasihat, inspirator, tauladan kami KH Hilmi Aminuddin.

Gusbeng, 4 Juli 2020
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search