-->

PLN Kiamat!

- Juli 03, 2020

Oleh: Ahmad Daryoko
Koordinator INVEST.

Beberapa hari terakhir PLN sibuk menjelaskan terkait kenaikan tagihan listrik secara mendadak dan spektakuler ! Ada yg dua x lipat, tiga x lipat...dst. Untung ada wabah Corona shg bisa dijadikan justifikasi lonjakan . Kesalahan catat meter pun menjadi argumentasi kenaikan tagihan tersebut !

Hal yg disampaikan PLN diatas adalah benar dan sudah sesuai dengan kewenangan dan kapasitas PLN sbg operator Ketenagalistrikan.

Namun ada fakta lain yang mempengaruhi lonjakan tagihan listrik tersebut, yaitu fakta berupa faktor Strategis diluar kewenangan PLN terutama yg saat ini terjadi di kawasan Jawa-Bali, yaitu :

1. Adanya instruksi Menteri BUMN yg melarang PLN operasikan pembangkitnya ( Majalah Tempo 14 Desember 2019, YouTube Kuliah Umum Menteri BUMN di Richcarlton 26 Januari 2020, Jawa Pos 16 Mei 2020 ). Sehingga saat ini kelistrikan Jawa-Bali disisi hulu dikendalikan oleh pembangkit IPP Asing dan Aseng. ( Pembangkit PLN hanya yg PLTA saja yg beroperasi, sedang yg non PLTA sebesar 15.000 MW mangkrak ).

2. Di sisi hilir/pemasaran atau ritail sudah dijual oknum DIRUT PLN saat itu ke taipan semacam 9 Naga dan juga ke perusahaannya (maklum oknum DIRUT ini juga Pengusaha Nasional ).

3. Dengan demikian hulu dan hilir kelistrikan Jawa-Bali sudah dikuasai Asing/Aseng serta swasta Nasional (mereka membentuk Kartel Kelistrikan Jawa-Bali ) . Dan mereka saat ini menyewa jaringan Transmisi dan Distribusi PLN untuk menyalurkan ke konsumen di Jawa-Bali.(PLN Jawa-Bali ibaratnya hanya sbg "kuli panggul" yg membawa stroom dari juragan pembangkit ke juragan ritail ).

4. Karena pemilik komoditas listrik (stroom) adalah bukan PLN lagi (PLN hanya "kuli panggul"), maka harga komoditas listrik tersebut menjadi kewenangan juragan ( Kartel ). Dan terjadilah kenaikan tagihan listrik tersebut !
Inilah yg disebut mekanisme pasar bebas kelistrikan ( MBMS = Multi Buyer Multi Seller ).

Saat ini sedang terjadi Serah Terima bisnis listrik Jawa-Bali dari PLN ke Kartel. Shg PLN harus menyelesaikan pembukuan jual/beli listriknya sehingga berdampak pada akumulasi pembacaan stand kWh meter secara sporadis dan tidak merata.

Sayangnya Media Mainstream dan Televisi Nasional dikuasai oleh para anggota Kartel diatas . Sehingga yg muncul ke permukaan  hanya  masalah2 teknis seperti yg telah di sampaikan PLN diatas.

Kedepan PLN akan semakin terpojok dengan masalah ini. Krn yg terjadi tdk hanya masalah Corona, tetapi adanya kejadian systemik yg diluar kapasitas nya. Sehingga ada dua kemungkinan yang akan menimpa PLN :

1). PLN akan "angkat kaki" dari kelistrikan Jawa-Bali dengan memindahkan karyawannya di Jawa-Bali ke Anak Perusahaan PT. HPI dan ICON (seperti SK yg diterbitkan oknum DIRUT yg jual Ritail PLN ) yang selanjutnya kedua AP tsb bisa masuk Kartel juga. Dan lambang PLN sementara "dipinjam" Kartel.
Selanjutnya PLN hanya urus kelistrikan Luar Jawa - Bali.

2). PLN terang2an bubar dan kelistrikan Luar Jawa - Bali di serahkan PEMDA.

3). PLN tetap ada tetapi posisinya sdh di bawah "sub ordinat" dari Kartel dng cara disewa.( Di awali dng strategi sewa menyewa jaringan  Transmisi dan Distribusi saat ini ).

JAKARTA, 13 JUNI 2020.
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search