-->

Muhadjir Sebut Rokok Penghambat Kemajuan, Faktanya: Pajak Rokok Tutup Defisit BPJS Kesehatan Rp5,73 T

- Agustus 28, 2020


Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengatakan rokok menghambat kemajuan budaya Indonesia.

"Salah satu faktor perintang untuk kita memajukan budaya kita, juga kebiasaan merokok. Perilaku merokok adalah faktor defisit dari nilai-nilai budaya yang kita miliki," katanya dalam kegiatan yang digagas oleh Universitas Indonesia dengan tema Tingkat Prevalensi Peningkatan Merokok pada Kategori Anak di Indonesia: Efek Harga dan Efek Teman Sebaya, Kamis (27/8)..

Ia berharap masyarakat benar-benar memahami dampak buruk dari rokok. Terutama bagi generasi muda.

Ia memaparkan bahaya dan kecanduan rokok, tak terjadi saat anak mulai bergaul di lingkungan teman sebaya atau grupnya. Bahaya rokok justru sudah terjadi di lingkup paling kecil sejak anak masih dalam kandungan, yakni dari faktor keluarga.

Menurut Muhadjir bahaya terbesar dari rokok dimulai pada 1000 hari kehidupan anak, yakni dari mulai masih janin hingga anak tersebut berusia sekitar dua tahun. Jika orang tua perokok, maka akan berdampak serius terhadap janin dan tumbuh kembang anak.

"Karena ketika suami jadi perokok, ibunya walau tidak merokok tapi dia akan jadi perokok pasif dan itu berpengaruh terhadap perkembangan janin yang ada di dalam kandungan ibu," kata Muhadjir.

Faktanya, Direktorat Jenderal (Ditjen) Bea Cukai Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat, pajak rokok dialokasikan untuk menutup defisit BPJS Kesehatan di tahun 2018. Raihannya mencapai Rp 5,73 T.

Direktur Teknis dan Fasilitas Cukai Ditjen Bea Cukai Kemenkeu, Nirwala Dwi Heryanto, penerimaan cukai rokok selama 2018 mencapai Rp 153 triliun. Artinya 10 persen dari angka itu atau Rp 15,3 triliun adalah pajak rokok yang dikutip daerah. 


Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search