-->

Saat Cendekiawan Dibisiki Orang Quraisy "Muhammad Itu Pemecah Belah"

- Agustus 04, 2020


Suatu hari, datanglah seorang bangsawan dan penyair cendekia dari luar Mekah, bernama Thufail Ad Dausi. Seketika itu juga, orang-orang Quraisy memberinya peringatan, "Hati-hati terhadap Muhammad, jangan dengar kata-katanya. Dia telah memecah belah orang dengan keluarganya. Kami takut jika kamu mendengarnya, kaum kamu juga akan terpecah-belah. Hati-hati dan jangan sekali-kali mendengarkannya!"

Diperingatkan begitu malah membuat Thufail penasaran. "Namun, aku adalah cendikiawan dan penyair. Aku dapat mengenal mana yang baik dan mana yang buruk. Apa salahnya kalau aku mendengarkan sendiri apa yang akan dikatakan orang itu? Jika ternyata baik akan aku terima, kalau buruk akan kutinggalkan."

Thufail akhirnya bertemu dg Rasulullah. ..

Setelah berfikir begitu, Thufail Ad Dausi mengikuti Rasulullah sampai ke rumahnya.

"Tuan benarkah Anda seperti ditudahkan orang?" tanya Thufail, "Apa yang Anda bawa dan Anda sampaikan kepada mereka?"

Rasulullah menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dan membacakan ayat-ayat Al-Qur'an.

Kecerdasan Thufail langsung menangkap apa yg disampaikan Rasulullah. Hatinya yg lembut, langsung bisa menerima sinar hidayah dari alquran yg dibaca Rasulullah ...
Hati Thufail segera luluh dan diapun memeluk Islam seketika itu juga. Ketika kemudian ia kembali kepada kaumnya, sebagian mereka langsung memeluk Islam, sebagian yang lain tampak ragu. Namun, beberapa tahun kemudian, ketika Rasulullah menaklukan Mekah, seluruh masyarakat Thufail Ad Dausi bergabung dengan Rasulullah.

Selain Thufail ada dua puluh orang yang diutus masyarakat beragama Nasrani untuk mencari tahu tentang Rasulullah. Begitu bertemu dan berbincang dengan beliau, mereka langsung menyambut, menerima, dan beriman kepada beliau.

Orang-orang Quraisy yang geram memaki-maki mereka. "Kalian ini utusan yang gagal! Kalian disuruh oleh masyarakat seagamamu mencari berita tentang orang itu. Sebelum kamu kenal benar-benar siapa dia, agama kamu sudah kamu tinggalkan dan lalu percaya saja apa yang dikatakannya."

Melihat orang-orang di luar Mekah seperti Thufail Ad Dausi dan orang-orang Nasrani memeluk Islam, para pembesar Quraisy yang paling gigih memusuhi Rasulullah pun akhirnya jadi bertanya-tanya, "Jangan-jangan, benarkah yang dibawa Muhammad itu benar?"

Akhirnya ada yang nggak betah.
Diam-diam Abu Sufyan pergi pada suatu malam ke dekat kediaman Rasulullah. Dia tahu Rasulullah selalu bangun malam dan membaca Al Quran. Abu Sufyan bermaksud menguping apa yang dibaca Rasulullah.

Saat Abu Sufyan mendengar ayat-ayat  Al Quran dibacakan, begitu tenang dan damai hatinya. Suara Rasulullah yang merdu menggema di kalbunya.

Saking nikmatnya Abu Sufyan mendengarkan bacaan Rasulullah, tak terasa ternyata sampai hampir terbit fajar.

Ketika fajar tiba dan Abu Sufyan bergegas pulang. Namun saat itu, dia memergoki Abu Jahal juga sedang mendengarkan bacaan Rasulullah. Ternyata Abu Jahal pun menguping apa yamg dikerjakan Rasulullah. Persis seperti apa yang dilakukan Abu Sufyan.

Ketika masih saling pandang tanpa mampu berkata, lewatlah Akhnas bin Syariq. Rupanya, Akhnas pun diam-diam pergi mendengarkan Rasulullah membaca Al Quran. Mereka bertiga pun saling menyalahkan.

"Kejadian ini tidak boleh terulang lagi," ujar salah satu dari mereka.
"Jika masyarakat kita tahu, kedudukan kita akan lemah dan mereka akan berpihak kepada Muhammad."

Ketiganya pun berjanji untuk tidak mengulangi perbuatan itu. Namun, pada malam berikutnya, mereka terbawa perasaannya masing-masing seperti kemarin. Tanpa dapat menolak bisikan hati, mereka kembali ke tempat semalam dan mendengarkan ayat Al Quran dibacakan. Hampir fajar, mereka bertiga bertemu dan saling menyalahkan lagi.
Kejadian seperti ini terjadi sampai hampir setiap malam sampai fajar.
MasyaAllah ...

Perbuatan itu terulang lagi pada malam ketiga. Ketika saling bertemu pada waktu fajar, kembali mereka saling tuduh. Rasa takut kemudian timbul di hati masing-masing. Mereka takut kehilangan kedudukan jika masyarakat memeluk Islam.

Rasa takut inilah yang membuat mereka berteguh hati untuk membuang jauh-jauh perasaan tenang dan damai yang mereka rasakan saat mendengar bacaan Al Qur'an.  Setelah itu, tidak seorangpun dari mereka yang kembali ke rumah Rasulullah pada tengah malam untuk mendengarkan beliau secara diam-diam.




📝 Catatan Tambahan

Setelah Rasulullah wafat,Thufail bersama putranya turut dalam Pertempuran Yamamah melawan Musailamah, si nabi palsu. Masa kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Thufail gugur dan syahid dalam pertempuran itu. Putranya, Amr bin Thufail sangat ingin mengikuti jejak ayahnya. Dalam Pertempuran Yarmuk di Syiria, tidak lama sesudah itu, Amr pun gugur. Saat itu, tangan jenazahnya teracung seakan hendak menjabat tangan sang ayah yang datang menjemputnya. Allahu Akbar ...
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search