-->

Alfin Mengaku Menusuk Syekh Karena Terganggu dengan Pengeras Suara

- September 17, 2020

 




Kabid Humas Polda Lampung Kombes Pol Zahwani Pandra Arsyad menyebut sampai saat ini, sudah 15 saksi diperiksa terkait kasus penusukan Syekh Ali Jaber di Bandarlampung.

“Tadi malam juga kita (polisi) sudah melakukan gelar perkara, sampai hari ini sudah 15 saksi yang dilakukan pemeriksaan,” kata Pandra, Rabu (16/9).

15 saksi itu, kata Pandra, diperlukan untuk melengkapi berkas perkara atas tersangka Alfin Andrian.

Pihaknya bisa semakin cepat melimpahkan penusukan ulama asal Madinah itu kepada jaksa penuntut umum. Sebanyak 15 saksi yang diperiksa itu adalah orang-orang yang hadir di lokasi atau di sekitar tempat kejadian perkara.

Selain itu, juga ada tetangga dan keluarga tersangka sempai saksi ahli dan saksi yang melihat langung kejadian tersebut. Baca: Profil Lengkap Imam Syafi’i dan Jejak Keilmuannya

“Termasuk ibu-ibu yang diajak foto oleh korban dan paman tersangka,” bebernya dikutip dari Antara.

Berdasarkan pemeriksaan oleh psikiater, motivasi Alfin melalukan penusukan karena tersangka gelisah dengan acara tersebut.

Apalagi kediaman pelaku berada tidak jauh dari lokasi tempat diselenggarakan tausiah Syekh Ali Jaber.

Ditambah, acara itu digelar dengan menggunakan pengeras suara yang membuat Alfin merasa terganggu karena berisik. Baca: Ada yang Nyuruh Pelaku Penusukan Syeikh Ali Jaber

Lantas ia tergerak untuk mengambil benda tajam lalu mengarah ke lokasi dan menyerang Syekh Ali Jaber.

“Adanya unsur mengancam nyawa dari korban dan keterangan saksi-saksi yang sudah melihat langsung baik yang berada di sekitar lokasi maupun saksi-saksi lain yang mendukung telah kita dapatkan,” terang Pandra.

Kemudian inti dari perkembangan perkara ini surat pemberitahuan dimulainya penyelidikan (SPDP) sudah diterima oleh Kejaksaan Negeri Kota Bandarlampung.

“Kemudian dalam proses penyidikan tindak pidana penyidik juga memiliki kewajiban memberikan surat pemberitahuan perkembangan hasil penyidikan (SP2HP) yang diberikan kepada saksi pelapor oleh tim penyidik kepolisian,” kata dia.

Berdasarkan penyelidikan, Pandra juga menyatakan bahwa Alfin Andrian tidak mendapat perintah melakukan penyerangan dari golongan atau kelompok tertentu.

Sebaliknya, tindakan penyerangan itu murni dilakukan oleh pelaku sendiri.

“Tim psikiater telah menanyakan itu berulang kali kepada tersangka dan tidak ada indikasi pelaku penikaman ini adalah teroris,” jelasnya.

Menurutnya, polisi telah melakukan penyelidikan ini secara betul-betul yang artinya sinergitas dari pemangku kepentingan.

Termasuk tim kerja seperti Densus dan Pusdokkes dan Bareskrim Polri agar pengungkapan perkara ini lebih sempurna lagi. Sehingga berkas perkara tidak ada lagi celah-celah lain.

“Kehadiran tim-tim tersebut untuk memperkuat lagi di dalam kontruksi pasal, melakukan penyelidikan apakah masih ada kaitan dan lain sebagainya tujuannya seperti itu,” kata dia.



Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search