-->

Bu Mega, Sampai Kapan Pun PDIP Tidak Akan Menang di Sumbar

- September 03, 2020


Ini menarik bu Mega (Rakyat Sumatera Barat Masih Belum Menyukai PDIP) saya akan jelaskan secara komprehensif dan jujur agar ibu tidak bertanya lagi. ini menyangku sejarah dan ayahanda ibu. mari kupas tuntas.

Megawati mengaku kesulitan mencari pemimpin untuk wilayah Sumatera Barat.

Sebelum saya lanjut, mungkin ada satu yg bisa saya pastikan. Sampai kapanpun PDIP  tidak akan pernah bisa menang di sumbar. Kecuali jika jejak2 sejarah dihapuskan.

Masy Sumbar itu sangat mengidolakan Bung Hatta. Bukan hanya karena putra daerah, tapi lebih kepada kekaguman pada integritas dan kejujuran beliau dalam memimpin bangsa ini diawal kemerdekaan.

Mungkin saat itu, Masy sumbar masih mengagumin Soekarno sebagai bapak bangsa. sebagai orang dengan penuh perjuangan dalam memerdekaan indonesia. Tapi ya itu, People Change..

Mungkin tidak perlu saya jelaskan detail disini. Siapapun tahu perubahan pak soekarno. hingga pada pertengahan 50 an, bung hatta tidak sejalan lagi dengan pak karno secara politik. Bung Hatta tetap ingin pemerintahannya jujur dan berintegritas. Yang tyata susah diwjudkan

Bung Hatta kemudian mundur. Dan ternyata membuat semuanya jadi berat. Tidak ada yang bisa mengingatkan pak karno untuk tetap pada pemerintahan yang baik dan adil. kemunculan PKI dipentas politik nasional semakin berpengaruh. Dan pak karno setiap tahun menikah terus.

Kuotanya melebihi dari ajaran islam yng dipegang teguh rakyat sumatera barat. 3 tahun kemudian di tahun 1958, arah bangas ini menjadi kurang adil dan tidak mementingkan bangsa sendiri tapi kepada pihak2 tertentu saja. dan itu tidak bisa diterima oleh beberapa orang

Dan meletuslah PRRI. Yang katanya pemberontakan. Tapi jika kita lebih detail membaca ultimatum PRRI, sebenarnya permintaannya tidak sulit untuk di penuhi dan dipahami akal sehat. Hanya meminta pemerintah kembali menjadi baik dan keluar dari pengaruh partai komunis dan adil.

PRRI memberikan kenangan buruk pada masy sumbar. Diburu disiksa dan dibunuh. Dianggap pemberontak padahal tidak satupun niat mereka membentuk negara sendiri. Penumpasan yg entah persetujuan soekarno atau tidak, yg jelas itu terjadi pada masa Pak karno masih menjabat

Generasi yg merasakan pedihnya ditahun2 itu masih hidup sampai skrg. dan generasi ini menceritakan ke generasi selanjutnya. Dan terbentuk satu hal. Mereka bukan anti pancasila hanya saja anti pak soekarno. Maafkan bahasa saya. Dan jika mungkin salah dan tidak mewakili..

Tapi itu yang terjadi dan nyata adanya. saya berumur 35 tahun ini, lahir di tahun 84 yg bahkan tidak merasakan langsung. tapi hanya dengan membaca sejarah saja tanpa diceritakan oleh ayah saya, saya sudah mendeklarasikan diri saya sebagai anti-soekarno sejak otak bisa berpikr

Kemudian, rasa penasaran itu menuntun pada cerita lain. Bagaimana pak karno memenjarakan buya hamka dikemudian hari. dan sutan syahril juga ikut di penjarakan. siapa lagi, googling saja..

 Jadi mungkin saran saya, fokus ke daerah lain kepertempuran yang bisa dimenangkan. Sulit menang di perang yg tidak bisa dimenangkan. Jangankan berharap, berpikir untuk menang aja mungkin satu kata yg harus dihindari

Akhir kata, semoga ini dapat menjawab pertanyaan ibunda yang terhormat. mungkin tidak ada orang yg berani bilang ini pada ibu. tapi emang inilah alasannya...


Oleh: Ken Yorindra

Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search