-->

Feminis Itu 11-12 dengan Anak Bontot yang Pengin Dimanja

- Oktober 21, 2020


Feminis itu terlalu freakout sama masyarakat, baik animo, opini, stigma ttg perempuan.

Saran saya, ketimbang cengeng ngegrup bikin feminis perempuan, lebih baik hadapi.

Banyak kok profesi yg lintas gender diterima masyarakat dari polisi, tentara sampe pedagang kaki lima.

She for her, itu sebenernya pengen ngelabrak tradisi otoritas keluarga atas nama orang tua, atau suami jika perempuan itu berkeluarga.

Pada dasarnya, ini bukan feminis, tapi celah utk jadi cengeng hadapi masyarakat.

She for her itu jadi aturan main baru atas dirinya sendiri, kalimat sopan pdhl artinya "ya terserah gue dong"

Ketimbang, membicarakan posisi sbg perempuan di tengah masyarakat. Tentu, definisi masyarakat yg well civilized atau madani tanpa lonte & penjaja aurat.

Fokusnya, adalah mencucuk hidung perempuan utk berhak atas dirinya sendiri, .. eh, hal itu mah biasa & masyarakat pasti akan terima.

Problemnya, she for her ga pake batasan moral & "justifikasi" ayat.

Jadi lonte, psk, tatto/piercing, lesbian, kan itu yg mau diterabas feminis?

Di rumah tangga, justru kaum feminis diuntungkan oleh agama tertentu, yg tidak mewajibkan utk mencari nafkah.

Jenis pekerjaan lintas gender pun diterima masyarakat, supir TJ, satpam, polwan, guru, bankers apapun ok.

Jadi, kalo gw boleh nosy, feminis jenis apa yg diperjuangin?

Implikasi pemhaman she for her akan meluas ke pemahaman, apapun mau gue, ya orang harus terima.

Jadi mirip gejala anak bontot yg dimanja. harus segala dipenuhin. 

Makanya, kalo mau debat feminis, sejauh apa mereka "semau gue"nya.


- Haris MZ.

Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search