-->

Saksi Mata KM 50 Buka Suara: Berawal Dari Depan Toilet

- Desember 11, 2020


Beberapa saksi mata yang melihat langsung insiden penembakan pengawal Habib Rizieq Shihab (HRS) di KM 50 buka suara.

Kepada wartawan senior FNN Edy Mulyadi, saksi mengatakan bahwa tidak ada baku tembak di KM 50. Saksi hanya mendengar dua kali suara tembakan yang dilakukan oleh aparat.

Laskar FPI yang mengawal HRS dan keluarganya, diakui saksi, tidak membawa senjata api. Namun dia tidak bisa memastikan apakah laskar FPI membawa senjata tajam, seperti samurai.

Saksi memaparkan bahwa saat kejadian pada malam Senin, dia sedang menunggu di toilet. Ia melihat belasan mobil mengepung salah satu mobil yang diduga milik laskar FPI.

Dari belasan mobil itu, kata dia, tiga di antaranya merupakan mobil patroli kepolisian.

“Ada satu mobil dipalang dan di situ polisi banyak banget. Bahkan, kata dia (saksi), sejak sore jam 6 itu sudah banyak polisi. Saya tanya berapa mobil? Mobilnya 10 lebih dan tiga di antaranya mobil resmi patroli,” ucap Edy Mulyadi.

Hal tersebut dikatakan Edy dalam tayangan berjudul ‘Pengakuan Saksi Mata KM50 kepada Edy Mulyadi’ dari chanel YouTube MimbarTube, Kamis (10/12).

Edy menyebut saksi melihat kejadian itu dari jarak sekitar 8 meter. Warga di lokasi diusir dan tidak boleh mendekat.

“Jadi, kalau polisi mengatakan ada baku tembak, tembak-menembak, sekali lagi si saksi mata tadi yang tidak ingin ditampilkan nama apalagi wajahnya, mengatakan cuma dua kali. Tidak ada tembak-tembakan,” ucap Edy Mulyadi.

“Dan dia (saksi) mengatakan bahwa yang menembak adalah polisi. Orang yang di dalam mobil sama sekali tidak membawa senjata karena tidak melakukan tembakan balasan,” tambah Edy.

Berdasarkan keterangan saksi mata, kata Edy, polisi menembak laskar FPI dengan menggunakan senjata laras panjang.

“Dia melihat dua orang langsung tewas di tempat,” kata Edy.

Edy menyebut saksi juga melihat polisi menembak ban mobil depan bagian kiri sehingga kempes. Tujuannya agar mobil tidak kabur.

Tak lama setelah dua orang ditembak, mobil ambulans datang mengangkut jenazah korban.

“Dua mayat dibawa keluar, digotong, dibawa pergi ambulans. Empat orang lagi masih hidup, satu terpincang-pincang kakinya itu dipindahkan ke mobil lain, dibawa pergi entah ke mana,” kata Edy.

Edy menjelaskan bahwa di lokasi kejadian tidak ada garis polisi yang dipasang dan tidak ada olah tempat kejadian perkara (TKP).


Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search