-->

Pakar Telematika Ini Kuak di Balik Drone Mata-mata China di Perairan Indonesia

- Januari 03, 2021


Pakar telematika Roy Suryo buka suara terkait drone mata-mata China yang tertangkap di perairan Indonesia saat Natal, 25 Desember lalu. Tak hanya satu ada tiga drone yang ditemukan saat itu.

"Ini sudah ancaman serius, Drone bawah Laut / UUV (Unmanned underwater vehicle) Chinese Sea Wing (Haiyi) di Perairan Selayar, Sulsel harus disikapi tegas Pemerintah," kata dia Ahad (3/1/2021).

Dlm catatan dia, sudah 3 (tiga) kali: 2019 di  Pulau dekat Laut Cina Selatan & Januari 2020 di Jawa Timur.

"Secara teknis, Drone Laut China yg  berlabel "Shenyang Institute of Automation Chinese Academic of Sciences" ini memang belum termasuk kategori USSV (Unmanned Sub-Surface Vehicle) yg sdh dipersenjatai meski sdh malfunction (rusak) semenjak dilaunch bulan November 2017 (3th lalu)," ungkap dia menambahkan.

Temuan itu dilaporkan oleh media Australia, News.com, yang juga mengatakan jika bentuk drone seperti tabung namun memiliki sayap. Namun perangkat tersebut dipenuhi dengan banyak sensor serta transmitter jarak jauh yang bertugas untuk mengirimkan hasil temuan ke markas, dikutip Jumat (1/1/2021).

Dilaporkan media itu, jika salah satu drone ditemukan di Selat Malaka. Ini adalah jalur perairan antara Indonesia dan Singapura juga merupakan jalur tersibuk pengiriman.

Sementara itu dua lainnya ditemukan di dekat Selat Sunda dan wilayah Lombok. Salah satu drone memiliki panjang 225 cm ditemukan oleh seorang nelayan lalu dilaporkan ke polisi setempat dan menghubungi pihak TNI AL.

News.com menyatakan jika ketiganya merupakan jalur penting yang menghubungkan Laut China Selatan (LCS) ke Samudera Hindia, jika ada yang bisa mengontrol 'jalan' itu maka akan membuat ekonomi di seluruh negara bisa bertekuk lutut. Jalur tersebut juga merupakan wilayah pengiriman penting bahan bakar olahan Singapura menuju Australia.

Analis perang kapal selam, H.I Sutton juga menyebutkan kehadiran drone tersebut bisa jadi kecurigaan China untuk melakukan pengintaian. Ataupun melakukan rencana untuk angkatan laut lainnya.

Salah satunya adalah data hidrografis yang sangat penting untuk peperangan kapal selam. Bisa sebagai cara kapal selam tetap tersembunyi maupun membantu menemukan musuh. Selain itu juga bisa untuk mengidentifikasi lokasi ranjau di lautan, yang bertugas menyerang kapal di bagian atasnya.

"Rute ini, Selat Sunda dan Selat Lombok mungkin sangat penting saat perang. Intelijen dikumpulkan oleh drone kemungkinan berguna jika kapal selam ingin menggunakan Selat tersebut," kata Sutton.

Sementara itu, China dan Australia memanas beberapa bulan terakhir. Australia menyerukan untuk melakukan penyelidikan internasional terhadap virus corona yang berasal dari China, hingga akhirnya menjadi pandemi.

Akibatnya hubungan keduanya retak, meski merupakan mitra strategis. China merupakan pasar ekspor terbesar Australia, pada 2018-2019 saja ekspor Australia ke China mencapai US$ 116,79 miliar atau setara dengan 32,6% dari total ekspor negara tersebut.


Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search