-->

Ahli Forensik Ini Bongkar "Buzzer Tak Main Sendiri, Terorganisir, dan Ada yang Biayai"

- Februari 02, 2021


Rentetan kasus dugaan ujaran rasisme yang akhir-akhir ramai menjadi pembahasan hangat di tengah masyarakat dibongkar oleh Ahli Psikologi Forensik Reza Indragiri.

Reza mengungkapkan bahwa kebencian adalah urusan perasaan. Sedangkan rasisme berangkat dari bias implisit (implicit bias). 

"Perasaan dan bias itu ada pada dimensi pribadi individu (si pembenci dan di rasis) dan muncul secara alamiah," kata Reza yang juga menjadi pengajar di sejumlah perguruan tinggi ini dalam keterangannya, Selasa (2/2/2021).

Khusus dalam kasus Abu Janda, sebagian masyarakat mengecap dia sebagai seorang buzzer pemerintah. Dalam analisanya, Reza memang tidak secara gamblang menyebut Abu Janda. Namun tetap ada konsekuensi dalam kasus ini.

"Tapi andai benar anggapan bahwa pendengung adalah orang bayaran sehingga dijuluki sebagai buzzeRp, maka ketika mereka melakukan perbuatan, pidana implikasinya," ucap Reza.

Ia memaparkan ada empat implikasi dalam kasus ini. Pertama ekspresi kebencian dan rasisme tidak bisa lagi dipandang sebagai dinamika psikologis yang bersifat alamiah pada diri si buzzer. 

"Postingannya bukan sungguh-sungguh ekspresi suasana hati. Bukan didorong oleh motif emosional, melainkan motif instrumental," papar Reza yang kerap diminta bantuan penegak hukum menganalisis kasus kriminal ini.

Kedua, Reza menduga aksi buzzer yang melakukan pidana di medsos mirip dengan kejahatan terorganisir. Sebab para buzzer sebatas eksekutor lapangan. 

"Di belakangnya ada otak dan penyandang biaya," ucap Reza.

Ketiga, jika benar ini masuk dalam kejahatan terorganisir, maka kerja aparat penegak hukum tidak cukup hanya melakukan pemidanaan terhadap buzzer saja. Aparat juga harus memproses hukum siapa otak dan penyandang dana tersebut.

Reza berpendapat buzzer juga harus diberikan hukuman tambahan selain hukuman pidana jika terbukti bersalah. Yakni dengan cara membatasi ruang gerak mereka di media sosial.

"Dasar berpikirnya adalah pembatasan ruang gerak, ruang hidup virtual si buzzeRp harus dibatasi guna mempersempit zona residivismenya," tutup dia.
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search