-->

Pernyataan Menohok MUI Soal Beda Sikap Kerumunan Ulama dan Presiden

- Februari 26, 2021


Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas membandingkan dua kasus kerumunan antara Habib Rizieq Shihab dengan Presiden Joko Widodo.

Ia mengatakan, kasus kerumunan Presiden Jokowi terjadi saat melakukan kunjungan kerja. Kasus kerumunan Habib Rizieq sendiri terjadi saat acara keagamaan.

Pelanggaran protokol kesehatan (prokes) itu juga sama-sama dilakukan oleh dua tokoh yang mempunyai pengaruh besar di tengah masyarakat.

Anwar berharap pihak kepolisian bisa bertindak adil secara hukum dalam memperlakukan kedua kasus tersebut.

“Masalahnya, Pak Jokowi juga sudah melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh Habib Rizieq,” ujarnya dalam keterangannya pada Kamis (25/2/2021).

Anwar kemudian menganalogikan kasus kerumunan kedua tokoh tersebut.

“Kalau Habib Rizieq ditahan karena tindakannya, maka logika hukumnya, supaya keadilan tegak dan kepercayaan masyarakat kepada hukum dan para penegak hukum bisa tegak,” jelasnya.

Begitu juga dengan orang nomor satu di Indonesia itu, harus pula ditahan sebagaimana Habib Rizieq Shihab.

“Maka Presiden Jokowi tentu juga harus ditahan,” kata Anwar.

Kendati demikian, lanjut Anwar, akan ada konsekuensi sangat besar jika presiden ditahan.

Hal itu berkenaan dengan keberlangsungan pemerintahan dan negara.

“Tapi kalau Presiden Jokowi ditahan, negara bisa berantakan,” tegasnya.

Ditahannya Habib Rizieq, sambungnya, membuat ummat juga menjadi berantakan.

“Padahal kita tidak mau bangsa dan negara serta rakyat dan ummat kita berantakan,” tambahnya.


Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search