-->

Prancis Mengakui Utsmani Sebagai Kekuatan Utama Eropa

- Februari 01, 2021


Pada 1 Februari 1553, terjadi perjanjian Istanbul dimana Prancis mengakui kedaulatan Utsmani sebagai kekuatan utama Benua Eropa. Raja Prancis Henry II menyatakan loyalitasnya kepada Negara Utsmaniyah.

Loyalitas dan kerjasama Prancis kepada Utsmani sebenarnya terjadi sejak 1526 sampai 1798, alias sekitar 272 tahun lamanya. Lama banget ya.

Aliansi ini dimulai semenjak Prancis menderita kekalahan besar melawan Dinasti Habsburg...yang ditandai sejak Penguasa Prancis Francis I dikalahkan di Pertempuran Pavia pada 24 Februari 1525, oleh pasukan Kaisar Charles V.

Beberapa waktu lamanya di dipenjara, kemudian di masa-masa itulah Francis I memikirkan untuk mencari bantuan melawan Kaisar Habsburg yang kuat, dan ia menemukan penolong paling hebat: Sultan Suleiman Al Qanuni, pemimpin Negara Utsmaniyah.

Lamanya kesepakatan loyalitas ini berpuncak pada tahun 1553 ketika Prancis dipimpin oleh Henry II, anak dari Francis I yang dulu meminta tolong pada Sultan Suleiman.

Pada 1 Februari 1553, Henry II bekerjasama dengan Kekhalifahan Utsmaniyah melawan Habsburg.

Pada tahun 1553, laksamana Ottoman Turgut Reis dan Koca Sinan dilengkapi dengan skuadron Prancis menyerbu pantai Napoli, Sisilia, Elba dan Corsica.

Henry II juga pernah menulis surat kepada Sultan Suleiman, meminta biaya, bahan potassium nitrate, dan 150 galai untuk ditempatkan di Barat.

Melalui jasa duta besarnya Jean Cavenac de la Vigne, Henry II memperoleh bantuan armada Utsmani ke Italia pada tahun 1558.

Loyalitas Prancis kepada Utsmaniyah ini berdampak baik untuk mereka. Banyak ilmu pengetahuan yang bisa diakses oleh orang Prancis di kota-kota Islam yang maju saat itu.

Contohnya, Sarjana Prancis seperti Guillaume Postel atau Pierre Belon dapat melakukan perjalanan ke Asia Kecil dan Timur Tengah untuk mengumpulkan penelitian yang tidak mereka temukan di Eropa.

Keadilan dan kesejahteraan yang ditorehkan Kekhalifahan Utsmaniyah menjadi contoh bagi negara-negara Eropa, sampai-sampai penulis Prancis Jean Bodin menulis,

"Kaisar besar Turki melakukannya dengan pengabdian yang besar kepada agamanya seperti yang dilakukan oleh pendahulunya. Namun dia tidak membenci agama asing orang lain;  tetapi sebaliknya mengizinkan setiap orang untuk hidup menurut hati nuraninya: ya, dan lebih dari itu, di dekat istananya di Pera, ada empat kaum pemeluk agama yang berbeda yaitu orang Yahudi, Kristen, Yunani, dan Umat Islam."


Sumber :

1. http://Islamstory.com Dr Raghib Sirjani

2. Daniel Goffman The Ottoman Empire and early modern Europe Cambridge University Press, 2002

@gensaladin

Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search