-->

Cerita Anton Medan yang Disyahadatkan Zainuddin MZ

- Maret 16, 2021


Pendakwah Anton Medan telah tutup usia. Sepeninggalnya, banyak orang menanyakan bagaimana kisah awal mula Anton Medan masuk Islam. Orang-orang di penjara Cipinang lah yang membuatnya masuk Islam. 

Berikut kisah hijrah Anton Medan.

Pada 1992, Anton Medan akhirnya resmi mengucapkan syahadat yang dituntun oleh KH Zainuddin MZ, Dai Sejuta Umat, kala itu.

Sejak saat itu, penjahat kelas kakap itu berganti nama dengan Muhammad Ramadhan Effendi.

Pria kelahiran 10 Oktober 1957 itu mendirikan masjid bernama Masjid Jami’ Tan Hok Liang. Masjid berada di kawasan Pondok Pesantren At-Ta’ibin, Pondok Rajeg, Cibinong, Kabupaten Bogor.

Kepada media akurat.co tahun 2019 lalu, Anton Medan menceritakan bagaimana dia akhirnya masuk Islam.

Waktu tahun 1992, saat dia mau masuk Islam, ditolak oleh Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), dan ditolak Yayasan Karim Oei dan Yunus Yahya.

“Tapi saya pun nggak patah semangat karena mereka tahu saya bajingan dihukum sekian lama, ini orang mau ngapain. Tapi Alhamdulillah saya ketemu Kiai Zainuddin MZ, dialah yang Islamkan saya,” katanya, Rabu 5 Juni 2019.

Awalnya Anton Medan beragama Buddha, lalu empat tahun menjadi Kristen Protestan selama dipenjara di LP Cipinang.

“Nah kemudian saya belajar Islam Muhamadiyah, delapan tahun Persis, empat tahun NU, 1992 saya Islam, 1993 saya haji, sisanya umrah saja,” katanya.

Lalu ia menceritakan orang-orang yang paling berperan terhadap proses masuk Islamnya dia saat berada di LP Cipinang.

“Orang-orang yang ada di penjara Cipinang. Saya memilih ganti agama karena saya sadar bahwa agama bukan pelengkap hidup, agama adalah pedoman hidup, sehingga saya mau mencari Tuhan. Akhirnya ketemu. Pertama Islam kan jelas, Tuhan nggak punya anak dan tidak diperanaki,” jelasnya.

“Kedua, semua orang ngaku punya kitab suci, yang saya pahami kitab hanya boleh dikatakan suci jika dia bebas campur tangan manusia. Sampai detik ini selain Alquran, tidak ada kitab suci,” tegasnya.

“Nah ketiga, ternyata saya pelajari Islam membebaskan manusia dari ras diskriminasi, Al-Hujurat ayat 13, 6.668 ayat hampir semua ayat memanggil-manggil manusia ‘Ya Ayyuhalladzina Amanu’, Al-Hujurat ayat 13 tidak. Hai manusia aku ciptakan seorang laki-laki dan perempuan, aku kembangbiakkan,” katanya.

“Untuk apa? Untuk saling mengenal, saling tolong menolong. Gua kalau bisa panjang kan repot lu orang, intinya itu saya pilih Islam,” jelasnya lagi.

Menurutnya, Islam telah membuat ketenangan batin buat dirinya.

Di kehidupannya saat ini, Anton Medan sudah membangun dua pesantren, satu di Cibinong, satu di Bekasi.

“Bekasi khusus untuk bekas narapidana. Semua gratis, saya punya usaha sampai detik ini pertama las, bengkel, itu bekas santri saya yang kerja. Antara 70 lapaklah di Jabodetabek, termasuk sablon spanduk, banyak,” katanya.

“Nah sama yang paling banyak pecel lele, saya Jabodetabek ini ada 480, tujuh bulan lunas milik mereka. Saya bukan pengusaha, nggak,” jelasnya.

“Saya lebih seneng nolong orang karena saya gelandangan sejak kecil. Sekolah nggak, sekolah kelas satu SD saja nggak,” jelasnya.

"Hidup itu kan kepuasan batin. Soal pendidikan? Dari Nabi Isa, Nabi Adam, dan Nabi Muhammad, yang mana yang sekolah? Kalau mereka bisa kenapa gua nggak? Semua manusia Allah cipatakan Ahsani Taqwim, dalam bentuk yang paling sempurna. Akal pikiran dan nurani."

“Mereka bisa, saya juga harus bisa dong, saya harus belajar, walaupun saya dibawah mereka, tapi saya ada upaya. Paham?,” katanya saat diwawancara wartawan pada awal Juni 2019 lalu.


Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search