-->

Menikahi Perempuan Hamil

- Maret 25, 2021


Stefan, temennya Rangga (Indonesia) dalam film "Bulan Terbelah di Langit Amerika" mempunyai pacar yang bernama Jasmine.

Keduanya, di dalam film tersebut, memang diceritakan bukan sebagai pemeluk agama Islam.

Keduanya terjalin hubungan pacaran yang sebenarnya tidak patut untuk ditiru, terlebih dari hubungan tersebut ternyata Jasmine hamil, Stefan sebenarnya tahu itu dan sadar, dia memang berniat menikahinya, tapi tidak tahu kapan waktunya.

Jasmine putus asa, menunggu janji menikahi yang tak kunjung pasti. Ada niat ingin aborsi, tapi pada akhirnya mereka menikah juga.

Setelah Stefan sadar bahwa dirinya memang harus menikahi Jasmine, apalagi dia sudah menanam saham terlebih dahulu, dia merasa harus bertanggung jawab.

***
Sampai disini memang endingnya terlihat manis. Terbersit senyum dari keduanya bahwa pada akhirnya mereka juga menikah.

Dan penonton seakan diajak "tersenyum" dengan ending seperti ini.

Namun tetap saja penonton harus cerdas bahwa pacaran, hubungan intim diluar pernikahan, dan pernikahan yang terjadi setelah semua itu bukanlah perilaku terhormat, baik dalam norma yang berlalu di negri kita, maupun dalam ajaran agama Islam khususnya.

Zina itu dosa besar, haram dilakukan, maka segala sesuatu yang bisa menghantarkan seseorang kepada perilaku zina juga diharamkan, begitu ajaran dalam Islam.

Semua ulama sepakat bahwa perempuan yang hamil karena pernikahan yang sah dengan suaminya, haram hukumnya menikah dengan laki-laki lain.

Namun perihal perempuan yang hamil karena zina, maka terkait hukum menikahinya para ulama berbeda pendapat; antara sah atau tidak sah. Disinilah letak ekstrimnya.

Para ulama dari madzhab Maliki dan Hanbali meyakini bahwa pernikahan seperti ini hukumnya tidak sah, sampai perempuan tadi melahirkan.

Jika pendapat ini yang dipakai maka tidak ada kata "kasihan" atas perilaku hubungan diluar pernikahan. Mungkin efek jeranya akan terasa di masyarakat.

Namun harus jujur kita sampaikan bahwa para ulama dari madzhab Hanafi dan Syafii berpendapat bahwa pernikahan perempuan hamil karena zina tetap dinilai sah.

Pernikahannya saja yang sah, sedangkan zina yang sudah dilakukan tetap haram, dan pelakunya berdosa besar.

Salah satu sumber perbedaan adalah pemahaman ayat berikut:

(الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ ۚ وَحُرِّمَ ذَٰلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ)

"Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin" (QS. An-Nur: 3)

Mana yg benar, sah atau tidak sah?

Kami sendiri juga tidak bisa mematikan mana yang benar diantara khilaf ulama diatas. Jika ingin aman dan nyaman maka pastikan pernikahan tersebut dilakukan dengan baik dan benar, tanpa sebelumnya didahului oleh sebuah tragedi yang bisa membuat malu keluarga besar, serta bisa menimbulkan murka Allah dan Rasul-Nya.

Sakinah itu, nasihat guru kami, akan didapat ketika rumah tangga dibangun atas ketaatan kepada Allah swt.

Wallahu A'lam.


Ustaz Saiyid Mahadhir Lc.

Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search