-->

Pesantren Tertua di Sumatera Ini Ditulisi Kata-kata Kotor

- Maret 03, 2021


Sejumlah foto yang diduga menghina Pesantren Musthafawiyah Purba Baru ini belakangan ini viral di media sosial. 

Dalam foto tersebut, pelaku menuliskan kata-kata kotor yang ditujukan ke Pesantren Mustofawiyah di dalam beberapa foto yang diunggah di media sosial Facebook.

Pesantren tertua di Sumatera yang berdiri tahun 1912 dihina orang tak bertanggung jawab itu membuat Gubernur Sumatera Utara pun mengungkap kekawatiran usai kejadian itu.

Kasus dugaan penghinaan terhadap Pesantren Musthafawiyah Purba Baru di Mandailing Natal (Madina) Sumut terus diusut.

Gubernur Sumut Edy Rahmayadi menyoroti dan mengaku khawatir atas kasus ini.

Kekhawatiran ini, disebut Edy, muncul karena takut kasus berkembang menjadi isu terkait suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

“Ini bisa SARA. Bisa-bisa nanti yang dituduh ini Kristen. Percayalah kalian, kalau ini yang bikin orang Kristen, pasti bukan karena agamanya, tapi akhlak yang buruk,” kata Edy di rumah dinas, Medan, Selasa (2/3/2021).

Eks Pangkostrad ini mengaku memberi perhatian khusus terhadap kasus ini. Terlebih, menurutnya, Pesantren Musthafawiyah Purba Baru sudah ada sejak 1912 atau sudah 109 tahun.

“Musthafawiyah itu lahir 1912, republik ini masih compang-camping, belum ada republik ini. Masih kerajaan-kerajaan. Lebih tua dari Nahdlatul Ulama, lebih tua dari Muhammadiyah,” ucap Edy.

Edy mengatakan dia merupakan orang yang mencintai sejarah. Menurut dia, seharusnya Musthafawiyah dilestarikan, bukannya dihina.

“Saya katakan saya senang sejarah, bukan karena Musthafawiyah itu Islam atau tidak, saya juga bukan orang Mandailing. Tahu-tahu sekarang seperti ini. Apakah begini kita ini?,” jelasnya.

Kabid Humas Polda Sumut Kombes Hadi Wahyudi mengatakan pihaknya sedang melakukan penyelidikan terkait dugaan penghinaan ini. Proses penyelidikan ini dilakukan Polres Madina.

“Sedang diselidiki Polres Madina,” kata Hadi di Kelenteng Gunung Timur, Medan, Selasa (9/2/2021).

Kasus ini juga mendapat perhatian dari DPRD Sumut. Wakil DPRD Sumut Harun Mustafa meminta polisi mengusut tuntas kasus ini.

“Kami mendorong agar pemerintah, Kapolri, dan Kapolda memproses kasus ini hingga tuntas,” kata Harun.


 

Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search