-->

Cerita Dokter Carissa Grani Masuk Islam Karena Corona

- April 21, 2021


Hidayah memang mahal harganya. Itulah yang dialami oleh dokter Carissa Grani yang tak pernah menyangka akan mendapat hidayah untuk memeluk agama Islam. Drg Carissa Grani masuk Islam gara-gara corona.

Dokter gigi lulusan Universitas Indonesia (UI) ini menceritakan pengalamannya pindah agama dari Kristen ke Islam.

Dokter yang berstatus sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Jakarta ini resmi memeluk agama Islam pada 15 Maret 2020.

Saat itu, virus corona atau Covid-19 mulai mewabah di tanah air.

Ia tersentuh lantaran ada anjuran memakai masker dan mencuci tangan untuk menghindari penularan virus corona.

Menurutnya, anjuran memakai masker dan mencuci tangan merupakan kebiasaan umat Islam.

Dalam sehari semalam, orang Islam wajib mencuci tangan dan membasuh muka minimal lima kali sehari atau yang dikenal dengan wudhu.

Umat Islam wajib berwudhu saat hendak melaksanakan ibadah salat.

“Itu kan kita mulai digalakkan untuk pake masker, sering cuci tangan, terus nggak boleh jabat tangan,” ungkapnya, dikutip dari kanal YouTube Rasil TV.

“Entah kenapa saya berpikirnya saat itu kayak melihat wanita muslimah yang jaga wudhu, yang nggak boleh salaman gitu kan,” ucapnya.

Carissa yang berlatar pendidikan medis merasa ajaran agama Islam sangat karena dapat menghindarkan diri dari penyakit.

Ia pun iseng untuk mencari tahu mengenai manfaat wudhu dan manfaat gerakan salat.

Carissa mulai mencari tahu mengenai agama Islam mulai dari yang sederhana.

Ternyata, gerakan salat sangat berguna untuk kesehatan tubuh.

“Saya lihat kok secara medis ilmiah bisa dibuktikan, tapi juga ajaran agamanya masuk gitu,” bebernya.

“Berawal dari situ sih, gerakan salat, kenapa jarinya gini harus begitu ditekan, secara medis itu bisa dijelaskan,” tambah Carissa.

Carissa Grani pun mulai mendalami Islam. Ia belajar Islam dari YouTube. Namun dia sempat ragu karena bacaan salat dan doa itu-itu saja, selalu diulang.

“Hafalan, kayaknya ini doanya atau bacaannya diulang-ulang, itu sepengetahuan saya aja,” ucapnya.

Namun, setiap dia meragukan sesuatu justru dia dengan cepat mendapatkan jawabannya.

Dari aspek ilmu pengetahuan, perputaran bumi pun ada hitung-hitungannya sendiri, sehingga ada jam yang menunjukkan waktu.

Di tengah pertentangan batin, Carissa sampai tidak beribadah selama dua minggu. Ia tak lagi ke gereja. Padahal, dia termasuk pelayan di gereja.

Keluarga Carissa adalah orang terpandang. Bahkan, mertuanya merupakan lulusan S2 teologi.

Carissa seperti berada di persimpangan jalan, antara tetap pada agama lama atau memilih masuk Islam.

“Antara saya masih lakukan yang lama tapi kok kosong, tapi untuk melakukan (ibadah) secara Islam belum bisa, belum belajar,” katanya.

Setelah dua minggu tidak ibadah, Carissa akhirnya memutuskan untuk memilih.

“Nggak bisa nih saya harus ngalah, harus salah satu saya pikir gitu,” akui Carissa.

Akhirnya Carissa memutuskan untuk menceritakan kegelisahannya kepada temannya yang beragama Islam.

Temannya pun merespon dengan baik lantaran Carissa memiliki ketertarikkan untuk belajar Islam. Teman Carissa menyarankan agar datang ke Mualaf Center di Jakarta Barat.

Teman Carissa berpesan untuk mencari yang akhwat. Jika akhwat itu menjelekkan agama lama Carissa, maka jangan diteruskan.

Selain itu, jika akhwat itu tidak mengajarkan tauhid, maka tidak usah memeluk Islam.

Akhirnya Carissa memutuskan untuk menemui Bunda Sri yang ada di Mualaf Center.

Singkat cerita, Carissa pun memeluk agama Islam. Namun keputusannya tidak diketahui oleh suami maupun ayah dan ibunya. (bersambung ke bagian ke dua. Di sini).


Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search