-->

Wapres Amin: Ideologi Transnasional Tak Terlepas Pemahaman Alquran yang Kaku

- Juni 08, 2021


Pemahaman terhadap kitab suci Al-Quran harus dilakukan secara mendalam. Pengamalan ajaran secara tekstual tanpa dibarengi pemahaman akan tafsirnya, menurutnya jelas akan memunculkan paham yang menyesatkan.

Hal itu disampaikan  Wakil Presiden Ma'ruf Amin saat menghadiri acara peluncuran buku miliknya berjudul Darul Misaq: Indonesia Negara Kesepakatan yang digelar di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Senin (7/6). Acara tersebut merupakan rangkaian kegiatan Dies Natalis ke-57 UNJ.

"Pemahaman secara tekstual, yang hanya memahami teks-teks Al-Quran dan Hadis tanpa penafsiran, menghasilkan pemahaman yang statis, karena pemahaman seperti itu tanpa disertai dengan maksud-maksud utama yang terdapat dalam sebuah teks," ujar Ma'ruf.

"Bahkan pemahaman pada teks-teks tertentu secara literal itu bisa menyesatkan, seperti ayat-ayat yang terkait dengan jihad," sambungnya.

Ia menyebut masih ada sebagian umat Islam yang masih memiliki pemahaman menyimpang akan hal ini. Alhasil muncul gerakan menolak negara Pancasila dengan menggunakan cara kekerasan atau teror dalam perjuangan mereka atas nama jihad.

Ideologi perjuangan yang terbilang intoleran dan disertai kekerasan ini menurutnya dipengaruhi pula oleh gerakan-gerakan Islam transnasional.

"Ideologi transnasional yang keras itu memang tidak terlepas dari pemahaman mereka terhadap teks-teks Al-Qur’an dan Hadis secara literal dan kaku, sehingga mereka memiliki sikap yang intoleran dan radikal, bahkan sebagian mereka memiliki sikap ekstrem dan pengkafiran terhadap kelompok lain yang berbeda," ucap Ma'ruf.

Agar ajaran kelompok tersebut tak makin meluas, ia menjelaskan kerangka metodologis dalam memahami Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah sebagai paham yang diikuti oleh mayoritas umat Islam di Indonesia. 

Di samping metodologi yang terdapat dalam ulumul Qur’an, ulumul Hadits, dan ushul fiqh, Ma'ruf juga menggunakan beberapa pendekatan, yakni manhajiyah, tawassutthiyyah (wasathiyyah), tathawwuriyyah, tasamuhiyyah, dan Ishlâhiyyah.

"Penggunaan pendekatan ini diharapkan agar pemahaman Islam dalam konteks masa kini bisa memenuhi tujuan-tujuan syari’ah (maqâshid al-syarî’ah) dan sekaligus solutif (makhârij) terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi umat manusia pada masa kini yang semakin kompleks," beber Ma'ruf.

Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search