-->

Pengalaman WNI Tinggal di Afganistan Saat Taliban Kehilangan Kekuasaan: Tidur dengan Granat

- Agustus 18, 2021


Saya mau cerita pengalaman berada di Afghanistan saat Taliban kehilangan kekuasaannya, 20 tahun lalu. Dari cerita itu kita bisa sedikit tahu kenapa sekarang mereka bisa berkuasa lagi. 


Jadi, gak lama setelah tragedi 9/11, AS menyerang Afghanistan karena Taliban yang berkuasa menyembunyikan Osama bin Laden, pemimpin Al-Qaeda yang dianggap mendalangi aksi teror itu.


AS datang dibantu Aliansi Utara yang bersuku Tajik di utara dan pasukan Ahmad Shah Massoud (Pashtun) di timur dan selatan. Hanya butuh beberapa minggu untuk merebut Kabul.


Saya dikirim ketika Taliban sudah terdesak ke selatan, tapi masih berkuasa. Saya turun di Pakistan dengan harapan bisa masuk lewat Kandahar. Tapi di Kandahar, pasukan Taliban melarang. Alasannya, mereka gak bisa jamin keamanan saya.


Di hotel, saya ketemu seorang fixer yang baru mengantar wartawan Rusia masuk Afghan dari Pakistan. Caranya, dimasukkan ke karung beras. Di perbatasan, karungnya ditusuk2 pedang, dan pedang itu lewat di depan idungnya.


Saya mau pakai jasanya, tapi gak mau dikarungin. Dia putar otak, telpon sana-sini, lalu memutuskan memasukkan saya lewat dataran tinggi di timur. Setelah naik turun gunung dan dikejar tentara, kami bisa masuk Afghan. 


Perlu beberapa hari untuk sampai kota terbesar di sebelah timur: Jalalabad. Sepanjang jalan, semua kota seperti kota mati. Mencekam.


Selama bbrp hari, gak lihat perempuan sama sekali. Pengaruh Taliban masih kuat, perempuan disembunyikan dalam rumah dan tidak boleh sekolah atau beraktivitas di luar. Jadi gak heran ada kejadian pilu spt yg dialami Malala Yousafzai.


Sebenernya sekolah cuma ada di kota besar. Di kota2 kecil, sekolah sudah jadi markas militer. Saya sekali nginep di markas bekas sekolah. Tidur di lantai dengan granat dan peluru di sebelah (kolong ranjang).


Ada kebodohan gue yg hampir buat koit. Di markas itu gue dikerubungi belasan milisi yg semua mengacungkan senjata terkokang. Udah kayak di film2. Dengkul lemes. Salah gue apa? “Kamu pakai telepon satelit. Bahaya, bs dilacak,” kata komandan yg selametin (duduk di tengah). 


Jadi, di sana itu setiap daerah segede kecamatan dikuasai war lord. Setiap mau melintas harus izin dulu, kadang malah bayar. Mereka ini punya pasukan sendiri.


Para warlord ini berkuasa banget. Ada kejadian lagi saya hampir mampus dan ini ada hubungannya sama warlord. Dlm perjalanan Jalalabad-Kabul, seorang milisi bawa senapan mesin pengen ikut mobil kami. Fixer sudah melarang, tp dia ngotot.


Oke, akhirnya disetujui, tp fixer bilang, “Kamu jgn ngomong apapun. Apapun.” Salah gue, pas doi masuk mobil, gue kasih salam, “Assalamualaikum.” Dia tahu logatnya bkn logat Afghan. Dia marah, nuduh gue intel AS dan mau bunuh gue.


Fixer ngeyakinin bhw gue bkn intel AS. Gue diminta baca Quran. Gak mempan, menurutnya bisa aja intel AS baca Quran. Ya juga sih. Dia naruh moncong senjatanya di dada gue, ngokang, dan siap bunuh gue,


Gue pasrah, ya udahlah ya, kalau memang mati, ya mati aja. Gue cuma mau salat 2 rakaat di batu gede di pinggir jalan. Eh, pas gitu tiba2 dia gak jd bunuh. Lega, tp gak tahu kenapa. Pas dia udah turun, fixer cerita sebabnya.


“Saya bilang, kau boleh bunuh dia, tp bunuh saya dulu,”kata fixer ke milisi . “Emang kau siapa?” tanyanya. “Saya teman baik warlord X.” Milisi itu ngeper & batal bunuh gue. “Lah kalau dia gak takut sama warlord gimana?” tanya gue. “Ya kita mati bedua hahaha,” kata fixer itu.


Para warlord gak loyal pada kekuasaan mana pun. Jadi, pragmatis banget? Yup. Tergantung siapa yg bayar. Jd kalau di Indonesia org punya duit nyaleg, di sana orang punya pengaruh akan bikin milisi.


Ini yg buat kekuasaan di Afghan fragile. Siapa yg kuat lobby dan duitnya ke para warlord akan dapat dukungan. Di Afghan, konflik adalah bisnis.


Mau bisnis apa lagi di tengah orang-orang yang tak terpelajar, terisolir, dan semua pegang senjata. Di setiap rumah ada AK-47. Anak2 lebih dulu belajar nembak dari baca-tulis.


Ada bisnis lain, opium. Dalam keadaan tanpa kekuasaan, para warlord punya atau lindungi ladang opium. Dari pinggir jalan utama kita bisa lihat ladang ini.


Taliban, tentu gak bisa gerak sendiri. Pasti ada yang danain untuk menggaet para warlord. Meski mereka taliban (santri), tapi politik mereka bukan soal agama. Ini bener2 pragmatis banget. Dan para warlord jg gak mau gabung cuma diiming2 surga.


Kelompok2 ini bersatu kalau ada musuh bersama, kayak Uni Soviet. Tapi itu juga karena ada AS yang bayarin. Setelah Uni Soviet kabur dan kolaps, para mujahidin berantem sendiri, kudeta mulu kerjaannya.


Taliban pada pertengahan 1990-an muncul karena geram sama berantemnya para warlord ini. Tapi, akhirnya, dia masuk putaran yang sama. Apa yang terjadi beberapa hari lalu ya sebenernya kelanjutan aja dari konflik selama puluhan tahun.


Siapa yg memimpin Taliban saat ini?

Namanya Mullah Baradar. Dia ditangkap pada 2010 di Pakistan. Tapi pemerintah Donald Trump pada  2018 minta Pakistan bebasin doi. Sekarang Mullah Baradar pemimpin Taliban dan "presiden" de facto Afghan.


Simpulkan sendiri hehehe...


Dulu, saat Taliban berkuada, semua tempat hiburan diberangus. Bahkan orang main layangan dilarang. Alasannya? Haram.



Nah, pas saya sampe, masyarakat Afghan lagi merayakan kebebasan mrk lg. Bioskop dibuka lg, meski filmnya film jadul.


Jd bisa kebayang kalau rakyat Afghan saat ini gak mau hidup di bawah tekanan Taliban. Bioskop dan hiburan tentu hal remeh. Yg lbh penting adl soal keamanan. Kenapa?


Gini, setiap terjadi perebutan kekuasaan kayak gini, negara akan goncang terus selama bbrp tahun utk cari titik keseimbangan. Artinya....


Pertempuran akan jd makanan sehari2. Tentara dan pemberontak akan pakai semua fasilitas utk perang.


Bahkan hotel yg saya tinggali di Ahmadabad ini jd markas tentara. Gimana bisa tidur pules? 


Istana2 kerajaan zaman dulu dipakai oleh war lord dan komandan Taliban utk markas tentara mereka. Pokoknha apapun dipakai utk perang. Tak heran banyak yg pengen  ngungsi dr sana.


Ada yg nanya, apa sih yg buat masyarakat Afghan begitu mudah dikoyak? Ada byk faktor, tentu. Eksternal dan internal, tp ada yg sgt penting: PENDIDIKAN.


Hal yg plg hancur semasa konflik puluhan tahun adl pendidikan. Orang dewasa yg bisa baca cuma 12%. Wajar, sepanjang hidup mereka cuma lihat perang.


Tingkat melek huruf di kalangan anak muda udah sampe 58% krn mereka hidup di masa "damai" (relatif) stlh Taliban digusur 20 th lalu. Jd pendidikan akan nyungsep lg dan makin byk org yg bisa diadu domba.


Ada banyak hal positif dr masyarakat Afghanistan yg tak lekang oleh waktu. Di antaranya soal hospitality. Kalau udah jd tamu mereka, kita gak cuma dijamu, tp dojagain nyawa kita. Bbrp kali mrk pasang badan saat saya dlm bahaya.


Masyarakat Afghan jg terkenal ulet. Selalu cepat recover setwlah dihancurkan oleh para kelompok yg berseteru. 


- Qaris Tajudin

@qarisT




Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search