-->

Tiga Alasan Perih UAS Kehilangan Sosok Fanni

- Agustus 02, 2021


Innalillahi wa innailaihi rajiun. Dewan Syuro Masjid Jogokariyan Yogyakarta Muhammad Fanni Rahman meninggal dunia. 


Pendakwah nasional Ustaz Abdul Somad memberikan kesaksian tentang perjuangan Fanni, Senin (2/8/2021).


"Kami bertemu di Masjid Jogokariyan Jogjakarta. Sejak itu, setiap kali aku ke Jogja, kami selalu bersua. Aku merasa ia lebih 'alim, lebih wara', tapi saat aku datang, ia selalu menjatuhkan dirinya di hadapan murid-muridnya, ia memposisikan diri jadi MC dan moderator. Saat membacakan al-Fatihah tadi, terasa perih di pangkal hidung, menyesak di dada. Mengapa dia punya tempat di hatiku. Setelah ku caru-cari, setidaknya ada tiga alasan:

Pertama, dia tidak sombong. Berapa banyak kebaikan orang seperti jejak telapak kaki di tepi pantai, hilang dihempas ombak. Kebaikan terhapus karena kesombongan.

Kedua, dia tidak kasar. Terkadang, terhapus 99 kebaikan orang karena 1 sikap kasarnya. Walapun porsinya sama, kita lebih ingat lampu merah daripada lampu hijau.

Ketiga, dia berbagi hadiah. Tidak mesti mahal. Tapi berkesan. Saat kami landing di Jogja menuju Solo, sempat mampir di restoran Ustadz Salim A Fillah di tengah sawah nan hijau. Aku tanya-tanya tentang gula batu dalam minuman khas. Tak lama setelah itu, sekotak Wedang Uwuh sudah tiba di Pekanbaru. Hatiku tertawan karena budi.

Saat menuliskan ini selepas Shubuh, ku lihat dia tersenyum. Senyum lepas dari huru-hara dunia. Dia tenggalkan jejak-jejak Da'wah di Jogjakarta, Maluku Utara, Kaki Gunung Merbabu, yang mesti ditapaki sebagai bukti bahwa kasih sayang bertapak di hati.

Al-Fatihah untuk Abah Fani.

Keluargamu pasti bangga punya orang sepertimu.

اللهم اغفر له وارحمه وعافه واعف عنه

Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search